Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
I LOVE YOU
hermin.gurusiana.id

I LOVE YOU

Bumi masih meringkuk malas dalam selimut malam meski kokok ayam telah bersautan. Samar-samar pendar matahari mengintip malas di kaki langit. Aku harus bangun melakukan semua aktifitas rutin, mulai dari mengecek pekerjaan di laptop atau menuliskan sebaris paragraph di gawaiku sebagai persiapan tantangan menulis di Gurusiana dan harus kuhentikan ketika jam menunjukkan pukul 04.30, waktunya memasak dan menemui tukang sayur langganan untuk stok memasak esok hari sementara masakan hari ini sudah dalam proses. Semua kegiatan harus tuntas pada pukul 06.00 pagi untuk kemudian bersiap berangkat bertugas piket di sekolah.

Perabot memasak dan piring-piring kotor kutata dalam wadah besar tempat cuci piring, biarkan dulu yang penting masakan sudah siap dan semua bisa sarapan sebelum aku ke kantor. Tak lupa aku pun harus makan pagi meski buru-buru bagai dikejar waktu, entahlah kenapa aku memiliki kebiasaan seperti itu. Kegiatan pagi serasa memburu sampai aku tiba di tempat mengabdi sebagai guru.

Namun kegiatan itu tak lagi bisa kulakukan ketika ibu mendadak tidak bisa berjalan, Parkinson membelenggu syaraf beliau sehingga sulit menggerakkan kaki dan tangannya. Beliau harus di rawat di tempat tidur. Maka, pagi ini kegiatan harus kuawali dengan membersihkan ibu yang lemah tak berdaya. Kegiatan memasak pun tetap harus berlanjut karena ibu tidak diperkenankan mengkonsumsi masakan yang mengandung terlalu banyak gula dan penyedap makanan, juga harus menghindari asin karena tekanan darah beliau selalu tinggi.

Laptop, dan gawai tak sempat ku sentuh sejak pagi. Kegiatan di sekolah sebenarnya hanya sebentar menyita waktuku sebelum aku berangkat memenuhi sebuah undangan kedinasan yang tak bisa kutolak karena telah terlanjur menyepakati waktu untuk hadir hari ini.

Aku tiba di rumah pada pukul tiga sore, selama perjalanan pulang sengaja berkonsultasi dengan dokter kenalan tentang kondisi ibu yang tak kunjung sembuh. Bengkak di kakinya mengharuskan ibu rawat inap. Hatiku ciut harus kemana merawat ibu di masa pandemic seperti ini? Akhirnya sebuah klinik yang terkenal pelayanan terbaiknya dalam menangani pasien diabet menjadi pilihan. Tanpa menunggu lama, aku langsung membawa ibu ke klinik tersebut. Masih tetap bersama suami SIAGA tentunya. Gak kebayang jika aku harus wira-wiri tanpanya.

Tak terasa hari serasa cepat berlalu, sementara ibu masih di UGD menjalani pemeriksaan, kusempatkan menulis perjalanan hariku hari ini agar tak terjun bebas dari tantangan menulis di Gurusiana. Dari semua kelelahanku, aku sangat bersyukur bahwa ‘mas Bojo’ selalu siap menemani dan membantuku melewati hari seberat apapun. Lelahku menjadi lelahnya. Apalagi saat aku harus merawat ibunya. Saat kutulis kisah ini, dia yang menunggui ibunya di depan UGD, berjaga-jaga jika ada panggilan untuk keluarga pasien.

“Ayah, ibumu adalah ibuku, kebahagianku bersamamu karena beliau melahirkanmu, aku menyayangimu juga ibumu.” Gumamku penuh syukur.

Balung, 25Januari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post