Mahkota Palsu 72 (Orang Ke Tiga)
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-157
# Tantangan Menulis Gurusiana
Informasi apa yang sebenarnya diperoleh Akung hingga membuatnya begitu lelah berpikir? Bersambung …
***
Tak biasanya Akung segelisah hari itu, ia hanya terlelap sebentar di sofa ruang tamunya. Uti yang sangat penasaran tidak berani menggannggu dengan pertanyaan apapun. Uti paham betul dengan keadaan Akung yang sepeprti itu, pasti ada sesuatu yang sangat berat yang mengganggu pikiran Akung.
“Fatma belum pulang,Ti?” tanya Akung mempertanyakan Fatma, putri keduanya.
“Belum, Kung, biasanya nanti sore ia baru sampai rumah,” Jawab Uti singkat.
“Alan?” Tanya Akung lagi.
“Dia bersama mamanya di kamar,” Jawab Uti yang keresahannya semakin menggunung. Ia pun mengikuti langkah Akung menuju rumah Nela.
“Alan …,” seru Uti pada Alan yang sedang asyik bermain kain perca sehingga berantakan. Rupanya Nela membiarkan Alan bermain sendiri sementara ia asyik dengan gawainya di kamar.
“Uti …!” seru Alan menghampiri Uti dengan langkah kecilnya yang masih tampak terseok karena baru saja lancar berjalan. Balita dua tahun itu menghampir Utinya dengan riang dan pasti pelukan hangat dan gendong Uti menjadi bonus. Alan pun memeluk Utinya seolah ia rindu dengan pelukan itu. Naluri keibuan Uti sangat paham jika Alan sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang mamanya.
“Astagfirullah …, kehidupan keluarga macam apa yang sedang kau jalani, Nduk?” Seru Akung memasuki kamar Nela yang sedang sibuk bervideo call entah dengan siapa yang jelas bukan Tiyok. Uti kaget mendengar suara Akung yang meninggi, ia segera membawa Alan kecil ke rumahnya untuk diserahkan pada Dewa, namun rupanya Dewa belum pulang sekolah.
Hanya Yanti yang kemudian Uti membantunya memasangkan gendongan kain panjang dan memastikan gendongan itu cukup kuat dan aman untuk Alan. Uti juga memastikan agar dua bocah kecil anak-anak Tiyok tetap bersamanya. Uti tak ingin anak-anak merasakan ketegangan orang tua mereka.
“Alan main dulu ya sama mbak Yanti …,” kata Uti sembari menguatkan gendongan di punggung Yanti. Sementara Alan bermain bersama Yanti, Uti ingin menyiapkan makan siang untuk anak-anak. Uti sebenarny sangat gundah, namun ia tetap harus tenang demi anak-anak.
***
Mendengar suara Akung yang tiba-tiba hadir di kamarnya, tentu saja Nela kaget meskipun sebenarnya Akung dan Uti telah beberapa menit yang lalu memasuki rumahnya. Keadaan itu membuat Akung semakin gundah.
“Bagaimana permasalahanmu dengan Tiyok bisa selesai jika kamu juga melakukan hal yang sama dengan suamimu?” sergah Akung dengan suara berat.
“Aku tidak melakukan apa-apa Kok Yah, aku hanya curhat pada temanku. Aku kalut Yah, butuh orang lain tempat bicara.” Nela membela diri tanpa merasa bersalah. Sifat keras kepalanya muncul jika menghadapi masalah, bukan mencari jalan keluar malah membuka masalah baru.
Kehadiran Akung di rumah Nela sebenarnya ingin mengajaknya berbicara tentang Tiyok, namun Akung mengurungkan niatnya ketika ia mendapati Nela bervideo call dengan seorang laki-laki dengan alasan suntuk butuh teman bicara.
“Apapun alasanmu, hal itu tidak perlu kamu lakukan, curhatmu hanya akan membuka peluang perselingkuhanmu, naudzubillah Nela! Kamu akan menyeret Bapakmu ke neraka!” ujar Akung sembari meninggalkan kamar Nela dengan kecewa mendalam. Wajahnya memerah menahan marah.
Apa yang akan dilakukan Akung selanjutnya? Bagiamana Akung akan membela Nela dengan kenyataan yang ia lihat sendiri tentang Nela?
Bersambung …
Balung, 2 Januari 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
