Mahkota Palsu 73 (Orang Ke Tiga)
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-159
# Tantangan Menulis Gurusiana
“Mbak, ngapain pasang-pasang status galau gitu?” tanya Fatma pada Nela yang sedang menyuapi Alan.
“Ndak ada apa-apa,” jawab Nela datar.
“Tapi dengan ungkapan-ungkapan galau mbak itu sama dengan pengumuman bahwa rumah tangga mbak sedang tidak harmonis, mbsk ndsk malu, tah?” ujar Fatma mulai sengit melihat Nela tampak tenang-tenang saja.
“Kamu tau apa? Sudahlah ndak usah ikut ngatur-ngatur! Mbak lebih tau apa yang harus dilakukan,” tukas Nela sembari beranjak meninggalkan Alan bersama Fatma. Ia berlalu begitu saja. Tak tampak lagi kesedihan, semua sangat wajar. Tetapi Fatma sangat hafal dengan karakter mbaknya yang seperti itu bukan berarti permasalahannya selesai, tapi pasti telah ada cara lain yang membuatnya tenang. Curhat di medsos atau bahkan curhat pada teman-teman lamanya dan melupakan masalah yang seharusnya ia hadapi untuk di selesaikan.
Jika sudah seperti itu, Nela akan sulit menerima nasihat siapapun. Ia akan lebih percaya pada ucapan-ucapan orang lain yang terkadang bukan meringankan masalah namun menambah masalah. Biasanya, Nela hanya akan menangis disaat ia merasa sepi sendiri menanggung bebannya.
“Bagaimana, Kung?” Tanya Uti pada Akung yang tampak tetap gelisah di ruang tamu. Uti paham, pasti AKung belum sempat bicara pada Nela tentang berita yang ia bawa.
“Tugas kita akan semakin berat, Ti,” jawab Akung dengan wajah prihatin.
“Kita tak bisa menuntut Tiyok jika putri kita juga melakukan kesalahan,” lanjut Akung tertunduk semakin prihatin.
“Maksud Akung apa?” tanya Uti ingin penjelasan.
“Nela melakukan kesalahan apa,Kung?” tanya Uti semakin penasaran.
“Akung tadi melihat dia video call dengan laki-laki tapi bukan Tiyok,” jawab Akung sedih.
“Mungkin dia temannya, Kung, jangan berburuk sangka dulu,” kata Uti menenangkan.
“Ti …, kalau anak SMA melakukan hal itu mungkin masih bisa diterima. Lah ini status Nela apa? Masih istri Tiyok, siapa yang bisa terima jika ia bervideo call dengan laki-laki lain yang bukan muhrimnya? Apapun alsannya, itu tidak bisa dibenarkan!” Akung tampak sangat geram. Ia mulai kehilangan kesabaran.
Kini fokus masalah malah berbalik arah pada Nela. Sementara permasalahan Tiyok belum bisa diselesaikan. Uti hanya bisa menarik napas panjang untuk meringankan beban pikiran dan kegundahan hatinya. Ia menatap suaminya dengan penuh harap agar orang yang sangat ia cintai tetap sehat dan tabah. Uti gak bisa membayangkan jika tanpa Akung.
Sebenarnya Uti sangat ingin mengetahui informasi apa yang diketahui Akung tentang Tiyok. Namun Uti tetap menyimpan rasa penasaran itu, ia tak ingin menambah beban pikiran Akung. Ia harus tetap tenang agar seisi rumah tenang, terutama anak-anak.
Apa yang akan dilukan Akung untuk mengatasi keruwetan masalah rumah tangga Nela? Akankah Akung membiarkannya saja?
Bersambung …
Balung, 4 Januari 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
