Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 74 (Orang Ke Tiga)
www.google.com

Mahkota Palsu 74 (Orang Ke Tiga)

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-163

# Tantangan Menulis Gurusiana

Hari beranjak malam. Sinar matahari yang cerah mulai meredup, ia tampak lelah di ufuk barat bersiap menuju peraduan. Alam mulai menata diri menyambut sepi. Semua pulang dari kegiatan sepanjang hari membawa rizki kepada keluarga yang sedang menanti. Namun tak demikian yang terjadi pada rumah tangga Nela. Tiyok belum pulang.

Anak-anak berada di rumah Kaung dan Uti semua. Mereka jarang berada di rumah Nela. Bukan karena rumah Nela yang sempit, tetapi anak-anak merasakan lebih nyaman bersama Kakek dan Nenek daripada bersama Nela dan Tiyok.

Ketidak pulangan Tiyok memang bukan hal yang pertama kali terjadi, dia memang seringkali pulang malam. Namun kali ini terasa berbeda. Kekhawatiran Nela mulai menyeruak di relung hatinya karena Tiyok pergi bersama perempuan yang ia curigai sebagai orang ketiga. Nela mulai gelisah, apalagi ia telah mendapat teguran Akung tadi siang.

Dalam kesendirian seperti itu, ia kembali meratapi perjalanan hidupnya, sayangnya, dunia maya menjadi pilihannya untuk mencari hiburan semu. Ia curhat kepada teman-teman yang hanya mendukung pemikirannya bahkan yang membuat hatinya semakin membara semakin penuh dengan kemarahan. Nasihat penting dari keluarga malah sering ia abaikan. Bahkan, ia pun semakin tak memperdulikan anak-anaknya. Alan si bungsu sekali pun tak nyaman bersama mamanya.

Malam semakin larut,tapi Tiyok tak kunjung pulang, Nela telah berkali-kali menghubunginya tapi hape Tiyok tidak aktif. Hati Nela semakin membara oleh curiga. Semua saran dari ayah dan ibunya seolah luntur oleh saran orang lain yang tidak tau persis duduk permasalahan mereka sebenarnya.

Sementara itu, dari teras rumah, Akung memperhatikan rumah Nela. Ia juga menunggu jam berapa Tiyok akan pulang. Akung memperhatikan dengan tenang meskipun hatinya sangat gelisah. Akung hanya berdzikir tanpa henti agar tetap tenang. Sesekali Uti menengok Akung.

“Belum datang?” tanya Uti

“Belum Ti,” jawab Akung sembari menengok jam dinding.

“Sudah jam sebelas Kung, apa tidak ingin istirahat?” ucap Uti yang juga sebenarnya gelisah. Namun Uti ingin agar Akung tak terlalu larut dalam memikirkan Nela dan Tiyok. Uti khawatir darah tinggi Akung kambuh.

“Uti saja yang istirahat temani anak-anak,” kata AKung tetap menerawang jauh ke ujung gang di halaman rumahnya yang luas. Jalanan rtampak sepi, tak ada tanda-tanda Tiyok akan pulang. Akung melihat Nela mulai menutup tirai rumahnya dan mematikan sebagian lampu yang tak digunakan. Ruang tamunya tampak sudah gelap.

Malam ituserasa amat sepi, sesepi hati Nela yang tak menentu dalam penantian menunggu suami yang tak lagi jelas baginya.

Mampukah ia mempertahankan kesabaran seperti nasihat orangtuanya? Ataukah menyerah pada amarah?

Bersambung …

Balung, 8 januari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post