Masih Ragu
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-183
# Tantangan Menulis Gurusiana
Intan terpaksa mengupah orang lain untuk menjaga ibunya yang sedang menjalani rawat inap di sebuah klinik khusus menangani pasien diabetes. Intan harus melakukan itu karena mbak Iqoh, ipar pertamanya bertempat tinggal di luar kota sedangkan Karmila, adik iparnya sedang bekerja di Arabsaudi dan masih terikat kontrak kerja. Maka tak ada pilihan, Intan harus bisa membagi waktu dan tenaga secara baik agar bisa melaksanakan tugasnya, juga bisa menjaga ibunya.
Sore itu hujan mengguyur bumi tanpa henti, tetapi Intan harus tetap pergi menemui ibunya di klinik. Meski jarak pandang berkendara hanya beberap meter ke depan, dengan mengandalkan cahaya lampu kendaraannya, ia terus merayap pelan menembus lebatnya hujan. Banjir di beberapa tempat selama perjalanan tak menyurutkan niatnya untuk sampai pada ibunya.
“Dokternya sudah periksa ibu, Mbak?” tanya Intan kepada mbak Darmi yang menjaga ibunya.
“Sudah, Bun,”
“Kapan?”
“Tadi pagi, setelah itu perawat yang bergantian memberi memeriksa dan menanyakan keluhan-keluahan ibu. Katanya kalau sudah tidak ada keluhan, malam ini boleh pulang,” jawab mbak Darmi seolah ingin melaporkan hasil penjagaannya terhadap ibu seharian ini.
“Terimakasih, Mbak. Sekarang mbak istrihat dulu mumpung saya masih di sini,” Intan mempersilahkan mbak Darmi sembari menyodorkan nasi bungkus kepada mbak Darmi.
“Aku sudah makan di kantin sebelah, Bun,” kata mbak Darmi menolak.
“Ibu juga sudah tak suapin, kok?” Lanjutnya.
“Ya udah, mungkin nanti malam mbak kepingin, kantinnya tutup jam delapan ,” kata Intan mengingatkan barangkali mbak Darmi ingin membeli sesuatu yang hanya dijawab dengan anggukan dan senyum.
“Ada keluarga pasien?” tanya seorang perawat dari depan pintu kamar.
“Saya,” jawab Intan sembari bergegas mengikuti perawat itu menuju ke sebuah ruang ruang dokter.
“Ibu keluarga ibu Romelah?” Tanya dokter.
“Iya, Pak, saya anaknya,” Jawab Intan segera.
“Jika sebentar lagi hasil pemeriksaan baik, maka boleh pulang malam ini juga.
“Alhamdulillah , …” sambut Intan girang sehingga ia segera menelpon suaminya agar menyelesaikan segala administrasi malam itu juga.
“Tapi, Dok, bagaimana dengan bengkak kaki ibu yang belum kempes?” tanya Intan penasaran.
“Bisa dirawat jalan, Bu, dan rutin kontrol tiga hari sekali sampai benar- benar pulih,” Kata dokter menjelaskan. Tentu saja Intan merasa bahagia karena bisa merawat ibunya di rumah tanpa harus wira-wiri membagi tugas menjaga.
Namun perasaan Intan belum lega sepenuhnya karena bengkak di kaki ibunya tampak masih merah.
Balung, 28 Januari 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
