Sakit Rindu
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-175
# Tantangan Menulis Gurusiana
Selepas Isyak, biasanya kami makan malam bersama, termasuk bersama ibu yang menempati rumahnya sendiri meski kami sudah menyediakan tempat yang menurut kami jauh lebih nayaman dilengkapi kamar mandi dan dapur serta kebutuhan utama beliau. Namun sepertinya ibu masih tak bisa move on dari kenangan masa lalunya sehingga tetap merasa lebih nyaman berada di kamar tua seusia kenangannya.
Sembari menunggu ibu, saya menyiapkan makan malam yang saya tata sedemikian di meja makan. Ditemani putri semata wayang dan suami yang asyik menelusur dunia maya di gawainya saya menyelesaikan hidangan siap santap, namun ibu tak kunjung hadir, hanya telepon yang tetiba berdering. Benar saja, itu telepon dari ibu yang mengabarkan bahwa beliau tidak bisa bergerak.
Kami pun bergegas menemui ibu yang telah tergeletak di kasurnya. Badannya panas dan kaku, sepertinya Parkinson telah menguasai seluruh syaraf beliau. “astaghfirullah …,” itulah kata yang bisa kami ucapkan atas sakit beliau. Mau tidak mau, ibu harus di bawa ke rumah sakit, itulah keputusan kami. Tetapi ibu malah menangis menjadi-jadi, beliau bilang bahwa membawa belaiu ke rumah sakit hanya akan membuatnya lebih sakit karena di sana ia tak akan bisa mengobati rindu pada masa lalunya.
Balung, 20 Januari 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
