IRI PADA GURUKU
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-199
# Tantangan Menulis Gurusiana
Beberapa tahun yang lalu, ketika saya mengantarkan siswa untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris sekaresidenanan Besuki, saya bertemu dengan guru bahasa Inggris saya. Serta merta, dengan berlinang air mata haru saya menyapa Ibu Zenda dan mencium tangannya. Bu Zenda yang lupa dengan saya hanya terkejut, kemudian senyumnya merekah ketika saya sebutkan bahwa saya adalah siswa beliau ketika masih SMP. Tampak di mata beliau pendar bahagia juga haru sekaligus bangga. Kemudian kami terlibat obrolan saling rindu tenggelam ke nostalgia antara guru dan siswa.
Tetapi saya malah sedih karena siswa saya hanya menyaksikan peristiwa itu tanpa ekspresi. Mereka baru menyalami guru saya setelah saya menyuruh mereka dengan mengatakan, “Anak-anak, ini guru saya, salim dong?” Barulah mereka satu persatu menyami guru saya, bukan mencium tangannya karena rata-rata mereka meletakkan punggung tangan guru saya ke pipi mereka. Hmm, tak apalah karena rata-rata siswa sekarang ya seperti itu. Entah dari siapa dan dari mana munculnya budaya mencium tangan yang diletakkan ke pipi.
Dari peristiwa itu, saya merasa iri pada mantan guru. Beliau berhasil medidik saya dan teman-teman saya untuk santun dan berbudi pekerti bahkan sampai kami dewasa dengan karir masing-masing. Hal itu terbukti pada saat reuni akbar yang diselenggarakan lima tahun yang lalu, semua teman seangkatan saya, baik yang berpangkat tinggi, pejabat penting, sampai pada pengusaha sukses, semua tetap mencium tangan para guru dengan penuh sopan juga dengan bahasa santun. Tertanam di hati kami bahwa guru sama dengan orang tua yang telah mendidik dan membimbing kami dengan ilmu juga budi pekerti yang baik.
Sungguh sangat berbeda dengan siswa saya yang semakin lama semakin gersang dari rasa saling kasih sayang. Apalagi saat pandemi seperti ini, Saya tidak bisa mengenal murid saya, demikian pula sebaliknya. Jika bertemu pun kami tidak akan saling bertegur sapa. Tak ada kemesraan yang terjalin antara orangtua dan anak seperti yang saya rasakan terhadap guru saya, guru SD, SMP, SMA, dan dosen-dosen saya, apalagi guru ngaji saya. Guru paud dan TK tidak saya sebut karena saya memang tidak pernah bersekolah di paud maupun TK. Saya merasa antara saya dan siswa telah sibuk mengejar nilai-nilai yang akan tertuang di lembaran kertas bukan di lembar kehidupan.
Semoga saja, setelah dilaksanakannya asessmen nasional akan bisa meingkatkan mutu pendididkan yang akan mengahsilkan siswa pada pencapaian kompetensi pengetahuan, keterampilan, sikap dan kecakapan hidup yang sangat penting bagi siswa untuk bekerja di era teknologi informatika dan agar mereka bisa berkontribusi pada masyarakat, yang tentu saja akan menghasilkan pribadi-pribadi dengan budi pekerti yang baik. Aaamiin.
#AutomerenungsetelahAKM#
Balung, 13 Februari 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
