Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 77
www.google.com

Mahkota Palsu 77

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-188

# Tantangan Menulis Gurusiana

Pagi masih gelap ketika Nela telah memulai aktifitas hariannya di dapur, namun kali ini agak berbeda dari biasanya. Ia memasak masakan kesukaan Tiyok, Tempe bacem dan pepes ikan tongkol sebagai menu utama disertai menu pelengkap lainnya. Ada sayur asem dan tempe goreng, tak lupa sambal trasi pedas dan krupuk sebagai penambah selera. Ia membayangkan Tiyok akan makan dengan lahap penuh rindu karena masakan itu adalah masakan yang pernah dipuji Tiyok ketia masih baru menikah.

Sementara kegiatan di rumah akung dan uti penuh dengan canda ceria dan celoteh anak-anak yang saling berebut mainan atau saling ganggu satu dengan yang lain selama menunggu uti selesai memasak. Akung tentu saja seperti biasa mengajak Alan jalan-jalan pagi menaiki motor seperti biasanya. Namun untuk jalan-jalan pagi, Uti tak pernah lupa memakaikan jaket dan topi agar Alan tak kedinginan diterpa angin. Fatma sudah dua hari berada di kampus karena sedang ingin menuntaskan skripsinya. Ia punya target untuk lulus tahun ini.

Hidangan di meja makan mulai pudar harumnya karena mulai dingin. Begitu pula dengan hati Nela yang semula berbunga-bunga, mulai berangsur layu. Ia mulai ragu apakah Tiyok akan pulang atau ia harus menunggu dengan penuh rindu seperti hari-hari yang telah berlalu?

“Pa, sudah sampai mana?” tanya Nela melalui pesan whatsapp yang kali ini hanya centang satu.

“Kemana Mas Tiyok? Mengapa belum ada kabar? Apa dia masih sibuk sehingga tak bisa dihubungi ya?” berbagai pertanyaan bergelayut dalam hati Nela yang mulai gelisah. Beberapa kali ia menelpon namun tak ada jawaban. Perasaan Nela mulai tak menentu. Ia mulai fokus lagi curhat pada teman-taman dunia mayanya. Entahlah, Nela selalu merasa permasalahannya ringan jika ia telah membeberkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu diketahui oleh orang lain.

Matahari beranjak tinggi, bayangan benda-benda hampir lenyap ketika tengah hari. Sebuah mobil silver memasuki halaman rumahnya. Nela bergegas keluar, membukakan pintu dengan senyumnya merekah. Ia yakin yang datang adalah Tiyok. Seketika angannya melambung bahwa Tiyok akan mnegajaknya ikut serta menemui ibu Tiyok yang kabarnya sedang sakit.

Namun sektika senyum Nela lenyap bersama lenyapnya bayangan benda-benda ketika matahari pas di tengah hari. Teriknya membuat hati Nela panas ketika Tiyok turun dari mobil itu bersama Mira.

“Aku hanya sebentar untuk menjemput anak-anak,” kata Tiyok memasuki rumah tanpa salam. Sementara Mira hanya berdiri di teras. Ia hendak menyapa Nela ketika Nela buru-buru mengikuti langkah Tiyok memasuki kamar.

“Anak-anak masih belum siap-siap,Pa, ndak makan dulu,Pa? ” tanya Nela berusaha sabar.

“Ya sana, suruh mereka cepat-cepat bersiap,” Ujar Tiyok dengan suara yang sama sekali tidak nyaman di telinga tanpa memperdulikan tawaran makan dari Nela.

“Mama mau ikut!” Ketus Nela akhirnya gusar.

“Kamu gila? Mobil itu bukan mobilku, itu mobil Mira, aku minta tolong ke dia supaya aku bisa cepat jemput anak-anak!” Ucap Tiyok tampak sangat tidak ramah.

Ada apa sebenarnya? Mengapa Tiyok sengotot itu ingin membawa anak-anak tanpa Nela? Bersambung …

Balung, 2 February 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post