Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 78
www.google.com

Mahkota Palsu 78

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-191

# Tantangan Menulis Gurusiana

Matahari pas di ubun-ubun bumi ketika Tiyok memaksa Nela menyiapkan anak-anak untuk segera ia bawa pergi. Hati Nela yang sejak tadi membara serasa tak mampu lagi menahan amarahnya.

“Kamu sengaja meminta tolong Mira supaya bisa berduaan dengan dia, kan? Kalian pacaran, kan? Kenapa gak pakai mobil lain saja?” Nela memberondong Tiyok dengan pertanyaan-pertanyaan tuduhan yang telah lama ingin ia hempaskan. Kali ini, Nela tak mampu bertahan. Ia teramat emosi hingga tak bisa mengontrol kata-katanya.

‘Plak!” sebuah tamparan menghentikan ocehan Nela. Tiyok menatap Nela dengan wajah merah amarah. Nela tak bisa menerima perlakuan Tiyok, ia menjerit histeris sehingga membuat siapapun yang mendengar berhamburan mendekat. Demikian pula sang Ayah dan Ibunya.

“Ada apa Nak Tiyok? Mengapa kehadiran Nak Tiyok selalu membawa keributan di rumah ini?” Pekik Uti tak rela mendapati putri sulungnya duduk bersimpuh di lantai sambil memegang pipinya yang merah bekas tamparan Tiyok. Uti bergegas memapah Nela untuk duduk di kursi dan segera memberinya minum.

“Nak Tiyok, mari ikut Ayah,” Kata Akung dengan suara sangat prihatin mengajak Tiyok ke ruang tamu di rumahnya.

“Ma’af, saya tidak ada waktu untuk mengobrol,” tukas Tiyok terdengar tidak nyaman di hati Akung yang tetap berusaha tenang.

“Bapak tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga kalian, tapi kali ini kehadiran yang seharusnya mendatangkan kebahagiaan mengapa justru kalian bertengkar? Tidak bisakah kalian saling berbicara baik-baik?”

“Ma’af, Pak, Nela menuduh saya macam-macam padahal saya …,”

“Cukup! Semua terjadi karena kalian memang tidak berkomunikasi dengan baik. Ada apa-apa suami-istri itu berunding agara tak salah paham seperti ini,” kata Akung menyela omongan Tiyok yang akhirnya duduk di kursi meja makan. Suasana mendadak hening kecuali isak tangis Nela.

Sementara dua bocah kecil anak-anak Tiyok tak berani menghampiri suara ribut meski mereka sebenarnya merindukan papa meraka. Tetapi Abi dan Dani harus tetap menemani Alan bermain di depan Televisi. Tadi Uti telah mewanti-wanti agar mereka menjaga Alan bermain karena Akung dan Uti masih mau menemui papa dan mama yang sedang ribut. Dua bocah itu tetap bermain meski sesekali menengok ke arah rumah mama dan papanya. Mereka penasaran mengapa mama dan papa selalu bertengkar.

Namun apalah daya anak-anak, mereka pun kembali hanyut dalam celoteh canda bermain bersama di kasur di depan Televisi, tempat mereka bercanda dan bermain di dalam rumah yang tak pernah bisa rapi sejak kehadiran mereka juga Alan yang mulai suka bermain semua koleksi mobil-mobilannya. Demikian pula dengan Abi dan Dani. Dua bocah anak Tiyok yang nasibnya terombang ambing sejalan terombang –ambingnya perjalanan cinta Tiyok papa mereka.

Mengapa papanya pulang membawa mobil? Apakah papa telah membeli mobil baru dan akan mengajak meraka berkeliling atau bahkan pergi jauh? Tetapi mengapa ada tante Mira? Mengapa mama menangis? Kedua bocah itu tak mampu mengeja peristiwa mengapa semua terjadi. Urusan orang dewasa terlalu rumit bagi mereka untuk dipahami.

Akankah Tiyok memberi mereka mama baru dengan semua kehidupan baru? Bersambung …

Balung, 4 Februari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post