Mahkota Palsu 79
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-192
# Tantangan Menulis Gurusiana
Mira terduduk sendiri di ruang tamu. Ia hanya bisa menunggu dengan gelisah mendengar keributan rumahtangga Tiyok. Akan tetapi, sangat tidak mungkin baginya untuk ikut campur, karena dialah penyebab semua carut marut yang sedang dihadapi keluarga Nela. Dia merasa di atas angin menyaksikan Tiyok sangat memperjuangkan dirinya di depan Nela dan keluarganya. Hati Mira sama sekali tak bisa merasakan betapa pedihnya hati Nela.
Taka da yang bisa menghalangi kengototan Tiyok, semua saran dan nasihat Akung maupun Uti berhasil didebat seolah Tiyok memang telah mempersiapkan segalanya untuk hari itu. Demi menghindari keributan, akhirnya dua bocah itu terpaksa harus ikut papa mereka.
“Aku belum mandi dang anti baju, Pa!” Kata Abi
“Tidak usah, kita harus cepat ketemu nenek!” Ujar Tiyok menggandeng paksa kedua bocak itu memasuki mobil tanpa sempat pamit kepada mama, akung maupun uti. Mereka tampak tertekan dan takut pada papa mereka yang tampak sedang gusar dan tidak tenang. Mereka dibawa paksa entah ke mana nasib akan membawa mereka. Mereka hanya pasrah dalam kebingungan anak-anak. Tak ada jalan lain kecuali menurut apa kata orang-orang dewasa yang membawa mereka.
“Sudahlah, Nduk, mungkin Tiyok memang benar sedang kalut karena ibunya sakit parah,” kata Uti sambil menggendong Alan yang sama sekali belum paham dengan apa yang barusaja terjadi antara mama dan papanya. Sementara Akung masih tetap berdiri di teras menyaksikan keganjilan berlalu di hadapannya. Jika ada orang yang bisa meremukkan tulang orang lain, maka saat itu, Akunglah oragnya, Akung tampak sangat marah namun tak tega pada Nela. Tiba-tiba kepala akung serasa berat, Akung segera merebahkan diri di kamarnya.
Uti menyerahkan Alan pada mamanya, ia kepikiran pada Akung dan bergegas menemui Akung.
“Kung?” seru Uti ketika mendapati akung sedang rebah di kasurnya.
“Kepalaku berat,” sahut Akung sambil memegangi kepalanya. Dan dengan segera uti mengambilkan obat untuk Akung agar segera tenang.
“Istirahat dulu, Kung, jika sudah nyaman Akung baru salat duhur,” kata uti penuh cemas. Ia kemudian menelpon Fatma agar bisa segera selesaikan urusan kuliahnya dan sebaiknya di rumah menemani Alan.
“Ada apa, Bu?” tanya Fatma penasaran.
“Ndak ada apa-apa, akung hanya masuk angina sehingga gak ada yang ajak Alan jalan-jalan. Mbakmu juga jahitannya banyak sudah ditunggu orang. Kalo kamu sudah selesaikan tugas kuliahmu, segera pulang ya nduk,” kata ibu penuh harap.
“Iya, Bu”
“Hati-hati di jalan, sayang,” kata ibu mengakhiri telponya. Fatmapun bergegas menyelesaikan segala urusan kampusnya agar ia bisa segera pulang. Ia paham sekali keadaan di rumahnya jika sampai ibu menyuruhnya pulang. Tak biasanya seperti itu.
Apa yang akan terjadi setelah kepergian Tiyok? Bersambung …
Balung, 5 Februari 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
