Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 84

Mahkota Palsu 84

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-204

# Tantangan Menulis Gurusiana.

Pagi hadir tanpa kata, seolah enggan mendengar cerita Nela yang tak pernah jelas sedang melakoni apa. Ia bersuami, mengenakan mahkota kehormatan sebagai seorang istri, namun tanpa makna. Suami yang seharusnya menjadi sosok paling menentramkan sebagai pelindung keluarga tak pernah ada disisinya. Jangankan kehadirannya, berkabar saja sudah hampir tak pernah terjadi. Nela hanya tau kabar tak pasti dari mbak Darmi, kakak iparnya yang kini mengurus ibu mertua juga anak-anak Tiyok yang ternyata tak pernah bersekolah.

Kehidupan Nela yang tenang sebelum kehadiran Tiyok, kini terseret ke dalam arus kecarut marutan kehidupan Tiyok yang misterius tanpa kepastian. Nela berusaha untuk menenangkan dirinya dalam kegiatan sehari-harinya. Ia bersyukur memiliki keluarga besar yang selalu hangat membelanya. Akung, Uti, Fatma dan anak-anaknya adalah kebahagiaan yang menguatkan hatinya.

Akung tak bisa lagi tinggal diam, berbekal informasi dari teman-teman dekat Mira juga Tiyok, Akung berangkat ke Surabaya untuk mencari tau di mana keberadaan Tiyok. Tentu saja, tujuan pertama Akung adalah rumah Tiyok. Akung masih akan meminta penjelasan keluarga tentang menantunya iitu.

“Saya juga bingung dengan nasib anak-anak Tiyok yang ditinggal di sini. Kasihan mereka tanpa kejelasan kapan akan bersekolah sebab papanya tak pernah pulang dan sulit dihubungi. Hanya sesekali mengirim uang untuk uang jajan anak-anak,” Mbak Darmi menjelaskan duduk persoalan yang sedang dihadapinya juga oleh tingkah laku Tiyok.

“Horee …!!! Akung mau menjemput kita ya Kung?” sorak anak-anak sangat girang dan langsung menghambur ke dalam pelukan Akung yang belum sempat melanjutkan perbincangan dengan Mbak Darmi. Dari tatapan kedua bocah itu, Akung membaca kerinduan berbalut kesedihan. Akung semakin merasa prihatin karena mereka tidak bersekolah.

“Akung masih mau menemui papa kalian dulu ya,” kata Akung dengan perasaan sangat bersalah karena terpaksa membohongi anak-anak. Di hati kecil Akung sebenarnya ingin sekali ia membawa pulang anak-anak yang telah seperti cucunya sendiri, namun ia tak ingin dipersalahkan membawa anak-anak tanpa seijin papanya.

“Nanti kalau Akung sudah ketemu Papa, Akung mau sampaikan jika kalian ingin pulang,” Kata Akung berusaha membujuk anak-anak agar tak menangis.

“Ya sudah, kalian main dulu ya,” kata Mbak Darmi membujuk anak-anak.

“Ndak mau!” jawab kedua bocah itu hampir bersamaan. Akung pun masih memeluk mereka penuh kasih sayang. Pikiran Akung penuh rancana untuk memberikan kepastian pada mereka semuanya. Bersambung …

Balung, 18 Februari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post