Strawbery Membuatku Malu
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-200
# Tantangan Menulis Gurusiana
Pagi ini ingin bersantai bersama keluarga melakukan aktifitas rumahan yang selama seminggu sepertinya banyak terlewatkan. Memulai pagi dengan merawat ibu sebelum subuh memang telah menjadi tugas tambahan sejak sebulan terakhir karena beliau sakit. Setelah itu biasanya saya memasak dua macam menu, yang satu menu diet untuk diabet dan yang satu menu umum untuk kami semua.
Namun hari ini saya ingin menikmati jalan-jalan pagi bersama anak saya dan keponakan yang kebetulan menginap. Sehingga untuk memasak saya delet jadwalnya, pagi ini saya memilih untuk beli sarapan di warung saja. Masalah menu ibu, ya sekali-sekali lepas dari diet bolehlah, hehehe….
Seperti biasa, hal pertama yang saya suka untuk saya perhatikan adalah menengok bunga yang saya tanam di dalam pot. Beberapa bunga berantakan di obrak abrik ayam, namun beberapa bunga anggrek jenis dendro yang mudah berbunga dan dua pot anggrek bulan warna putih sedang berbunga bersama-sama setelah saya beri pupuk dan vitamin khusus anggrek. Bunga Vinka warna-warni juga tetap cantik bertengger anggun di rak kayu berwarna putih. Demikian juga dengan beberapa jenis aglonema berjejer manis di rak besi warna putih.
Kemudian mata saya terpaku pada sebuah pot strawbary yang terletak begitu saja di sebuah pot di pagar teras. Semula saya ingin menempatkannya di tempat yang lebih tinggi dengan sinar matahari yang cocok, namun sudah banyak berjejer bunga lain, Si Strawbary akhirnya terlalaikan. Mata saya terpaku pada buahnya yang ranum, hanya sebuah dan sangat kecil, tak tega memetiknya. Saya menatapnya iba dengan perasaan bersalah sekaligus malu. Ia yang saya abaikan masih memberi meski sedikit.
Bunga-bunga telah memberi renungan untuk saya, bahwa semua sesuai dengan apa yang kita lakukan. Bunga-bunga yang mendapat perhatian dan diperlakukan baik, ia terus memberikan yang terbaik, sedangkan yang terabaikan tak mampu memberi banyak karena bertahan hidup saja sudah untung, apalagi sampai memberikan berbuah.
Dan jangan berharap banyak pada orang lain jika kita tak melakukan apa-apa, apalagi mengabaikannya. Hidup itu take and give, saling memberi dan menerima. Kita tak bisa berharap menerima jika tak pernah memberi. Jangan berharap banyak jika yang kita berikan sedikit. Demikian pula dengan rasa cinta dan kasih sayang, semua tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang kita berikan seiring berjalannya waktu. Semua berproses, siapa menanam ia yang menuai. Tak ada yang bisa dipaksakan apalagi di beli.
Salam litersai, tetap semangat untuk terus berbagi dan terus berharap agar Allah selalu meyirami hati kita dengan curahan kasih sayang yang tiada batas kini dan nanti.
Balung, 14 Februari 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
