Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Haruskah Ada Kecewa?
www.google.com

Haruskah Ada Kecewa?

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-219

# Tantangan Menulis Gurusiana

Berbincang bersama sahabat yang tak ingin disebut namanya, bahkan ia menuliskan pendapatnya, membuat saya semakin terdorong untuk menyampaikan hal tersebut melalui tulisan ini. Saya paham betul bahwa sahabat saya itu memang selalu ingin berbagi kebaikan untuk orang lain. Perbincangan saya dengannya adalah tentang rasa kecewa.

Semua orang pasti pernah atau malah sering mengalami rasa kecewa ketika harapannya tak sesuai dengan kenyataan yang ia terima. Namun takaran kecewa masing-masing orang tentu tidak akan sama. Rasa kecewa yang dialami oleh anak kecil akan berbeda dengan remaja dan orang dewasa.

Bila kita cermati, sesungguhnya rasa kecewa adalah anugerah yang luarbiasa yang dengan rasa itu, kita sebagai hamba bisa menyadari dan belajar banyak hal sehingga pada akhirnya akan bisa menimbang seberapa berat dan seberapa perlunya sebuah kecewa. Dari hal tersebut, mengalirlah beberapa takaran rasa kecewa mulai dari kecewa yang sangat tidak penting dan tidak ada manfaatnya sama sekali, kemudian kecewa yang masih bisa masuk akal dan beralasan, dan yang terakhir adalah kecewa yang butuh kita rasakan.

Pada takaran pertama, sebagai contoh bila kita berharap pertolongan dari teman tetapi nyatanya teman kita sama sekali tidak bisa membantu sesuai harapan. Nah, pada posisi ini, timbulnya rasa kecewa sangatlah tidak penting bahkan tidak ada manfaatnya sama sekali. Kekecewaan di posisi ini sangat tidak beralasan karena kita sama sekali tidak bisa menghukum orang lain yang tidak memiliki tanggungjwab pada diri kita atas dakwaan dia tidak mau atau tidak rela membantu kita. Orang lain memiliki kemerdekaan atas dirinya untuk bersikap.

Secara etika personal, rasa kecewa seperti ini justru mencerminkan betapa kurang pahamnya kita atas kepribadian teman tersebut. JIka demikian, kenapa kita harus merasa kecewa atas sikap dia? harusnya sebagai orang yang kenal dengan dia, bagaimana bisa, seorang teman kita dengan sadar bersikap mengecewakan jika bukan karena kurang baiknya efek sikap kita sendiri padanya. Dari contoh ini menunjukkan betapa tidak pentingnya sebuah kecewa, jika itu berkaitan erat dengan keserakahan kita, ketidak tahuan kita bahkan ketidakpedulian kita sendiri. Dengan kata lain, kita tidak bisa mengharapkan sikap, keperdulian, kesadaran dan ketulusan orang lain bila kita sendiri belum memiliki dan melakukannya untuk orang lain.

Kecewa diposisi kedua menurut saya adalah sebuah rasa yang sepadan selaras dan masuk akal, dimana rasa itu muncul karena kita telah memiliki andil, terhadap pemenuhan untuk tidak hadirnya rasa itu. Sehingga ketika rasa kecewa itu muncul, masih dikatakan pantas. Contohnya begini, ketika kita melatih seorang siswa dengan begitu serius dengan menambahkan waktu, pikiran, bahkan biaya sendiri setepat mungkin, dengan harapan bisa membawa nama baik sang pelatihnya, namun setelah tiba saat bertanding dia tidak bisa mengalahkan lawannya, dan dia kalah; kita pun kecewa. Kecewa semacam ini masih tergolong logis karena kita sudah berjuang dan andil dengan porsi yang lumayan, yang menurut dugaan dan pikiran kita, sudah patut mendapatkan hasil atas upaya itu, namun kondisi dan situasi berkata lain.

Meskipun demikian, sejatinya kecewa semacam ini masih kurang tepat, karena kita tidak bisa memprediksi hal lain diluar diri kita, seperti seberapa besar pengorbanan pelatih lainnya, bisa jadi telusur punya telusur, pelatih lain berani berkorban waktu tenaga dan biaya tiga bahkan lima kali lipat dibanding kita, jika sudah begini, apa kita masih berani kecewa? Kenyatannya, kecewa yang sudah benar menurut logika atau etika sekalipun masihlah sebuah kecewa yang salah. Kecewa yang setelah kita tengok lebih luas, tidak berarti apa-apa, bahkan bisa jadi bukan dianggap kecewa oleh orang lain; dan mungkin yang benar itu sejatinya bukan sebuah kekecewaan namun semangat dan kesempatan untuk lebih berbenah dan tahu diri.

Pada posisi ketiga, bila kita kecewa karena ketidak mampuan kita sendiri, bukan kecewa pada ketidak mampuan orang lain. Contoh mudahnya begini; saat kita sering dimintai tolong teman kita untuk meminjaminya sejumlah uang secara berulang, dikembalikan lalu dalam waktu dekat dipinjam lagi dengan jumlah yang jauh lebih kecil atau lebih besar dari sebelumnya. Nah suatu ketika, ia datang untuk meminjam uang lagi dalam kondisi sangat butuh bantuan, sayangnya pada saat itu pula kita sedang pada posisi tidak berdaya untuk menolongnya.

Kecewa atas ketidakberdayaan kita untuk menolong orang lain inilah rasa kecewa yang kita butuhkan agar kita bisa terus berbenah untuk semakin baik dalam sikap, keperdulian, kesadaran dan ketulusan karena sejatinya, kenyamanan dan kelancaran kehidupan orang-orang terdekat kita, yang menjadi tanggung jawab kita terutama, diteruskan oleh mereka yang ada disekitar kita sebagai imbasnya. Sehingg keindahan dan kenikmatan hidup merupakan keselarasan dan kenyamanan proses yang terjadi di keluarga kita dan lingkungan kita tentunya. Pengorbanan yang tulus untuk mewujudkan itu semua merupakan iktikad paling bisa diterima sebagai padanan rasa kecewa yang berwujud anugerah pembelajaran berharga.

Kita tidak bisa kecewa pada orang lain yang bersikap tidak sesuai harapan dan kita tidak bisa mengubah orang lain menjadi baik seperti keinginan kita. Tugas kita hanya bagaimana berusaha menjadi baik dan lebih baik pada orang lain.

Jangan pernah kecewa pada perlakuan buruk siapapun bernama manusia, kecewalah bila kita tak mampu memberi kebaikan pada orang lain.

#automerengiobrolansahabat#

Balung, 5 Maret 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post