Jangan Baca Novel Pak Irwan Gurusianer!
# Hari ke-225
# Tantangan Menulis Gurusiana
Hari itu ada beberapa kegiatan yang wajib tuntas dalam sehari di sekolah karena esok pagi-pagi sekali sudah akan dikirim ke Diknas Jember. Pulang sore adalah hal tak terelakkan dan tidak juga mengagetkan, karena memang sudah seperti itu iramanya.
“Bun, ada paketan!” Seru Kakak ipar ketika saya melintas di depan beranda tokonya, tempat yang mudah dikenali oleh Pak Pos atau kurir jasa pengiriman lainnya. Saya pun membuka kaca jendela mobil untuk mendengarnya lebih jelas.
“Apa Ma?” begitu saya menyebutnya dengan panggilan mama seperti kebiasaan anak saya memanggil kakak perempuan ayahnya.
“Paketan Buku ko Sumatera!” (Paketan Buku dari Sumatera) Serunya lagi sambil menyerahkan sebuah paketan yang terlihat jelas jika isinya buku. Tertulis pengirimnya adalah Irwanto, Jl. Rasul Telur Desa Bato Pariaman Timur. Kota Pariaman. Sumbar. 25519. Sama seperti paketan buku lainnya, belum saya buka sampulnya bila saya belum sempat membacanya. Maka saya letakkan saja bersama tumpukan buku lainnya. Sore itu hal yang paling ingin saya segerakan adalah mandi, berganti baju kebesaran alias daster kemudian menghempaskan diri di tumpukan bantal yang tertata asal-asalan tadi pagi.
Namun rasa penasaran membuat saya tak tenang sebelum membuka paketan itu. Tak menyangka isinya adalah dua buah novel berjudul “Senja Di Negeri Jiran” dan Kujalani Takdirku Tanpa Neko-Neko. Seperti jatuh cinta pada padangan pertama, saya membuka plalstik pembungkus “Senja Di Negeri Jiran” sembari menyamankan bersandar pada tumpukan bantal saya mulai menelusur serangkai demi serangkai kata mulai dari sinopsisnya. Biasanya saya akan terlelap dengan sendirinya jika saya berselancar di gawai yang mungkin pendaran sinarnya memang membuat mata semakin lelah.
Berbeda ketika saya membaca “Senja Di Negeri Jiran,” alur ceritanya membuai rasa seolah berada dalam cerita. Benar-benar merasakan peristiwa demi peristiwanya. Air mata tak terbendung, tak ada pilihan kecuali daster yang menjadi sasaran sebagai pengusap airmata.
“Gak istirahat, Bun?” tanya suami yang memandang saya iba, lebih tepatnya memandang aneh melihat sesenggukan saya sedemikian alaynya. Mungkin suami curiga saya sedang menangisi sesuatu tapi pura-pura baca novel. Hahah…haiyyaa…jadi buka rahasia.
Pada Bab satu novel itu yang terdiri dari sepuluh halaman telah mengoyak rasa, saya terbawa rasa kesepian yang sangat pilu, tak bisa memeluk dan mencium anak sendiri padahal mereka ada di hadapan. Menjadi tamu di rumah sendiri yang pada dindingnya masih terpampang foto diri. Sejuta kenangan menyeruak dalam cat dinding yang cara memilihnya masih lekat dalam ingatan. Hanya mendapat senyum sapa sekadarnya dari pasangan yang dulu pernah merenda cerita menjalin keharmonisan dengan penuh canda tawa.
Kebayang nggak? Airmata saya semakin deras merasakan tidak bisa tinggal di rumah yang dulu dibangun dengan susah payah bersama pasangan. Hanya bisa menikmati kebersamaan tak lebih dari satu jam dan harus angkat kaki dari rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk pulang…
Sore itu tak sanggup saya melanjutkan membaca, khawatir suami semakin kepikiran. Saya memilih berhenti membacanya, beranjak ke dapur dan membuat dua cangkir kopi untuk saya dan suami. Lah…lah...kok masih mbrebes mili ngebayangin gak bisa ngopi bersama pasangan di rumah sendiri, sedih banget. Jangan baca novel Pak Irwanto kalau belum siap tissue. Pak Guru Matematika jebolan kelas Novel 1 bimbingan Ibu Istiqomah ini benar-benar kerasukan ilmu Bu Isti yang karyanya juga mangaduk rasa, tak terduga dan selalu jeli dalam menghampiri sudut pandang setiap peristiwa.
“Sorry, Yah, Bunda sedang menikmati perasaan dari membaca novel ini, kalau ayah gak percaya, baca aja sendiri,” ucap saya sembari menyeruput kopi hangat dan membiarkan Kang Mas Bojo dengan perasaannya sendiri.
Saya pun mbatin mana mau Kang Mas Bojo baca novel? Kecuali novelnya tentang pupuk atau cara bercocok tanam yang menghasilkan? Ada gak ya novel semacam itu? Hahaha, sepertinya akan menjadi ide bagi Pak Irwanto pendulang ide dari berbagia sumber.
Balung, 11 Maret 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
