Ketika Buah Hati Salah, Apakah Orangtua Benar?
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-224
# Tantangan Menulis Gurusiana
Bertolak dari pengalaman sehari-hari selama saya menjadi guru dalam menghadapi siswa, menjadi bahan renungan bagi saya mengapa dari masa ke masa ada perubahan perilaku siswa pada guru mereka.
Dulu, ketika saya baru menjadi guru pada sekitar tahun 1998, kala itu serasa amat mudah untuk mengatur mereka dalam mengikuti pembelajaran di sekolah. Pelanggaran tata tertib tidak ada yang berat, ya hanya seputar keterlambatan karena ban bocor atau masalah ketidak lengkapan seragam. Membolos memang telah ada kasus namun beda alasan dengan siswa jaman sekarang.
Seiring waktu, kasus pelanggaran siswa mulai semakin bervariasi dengan alasan yang semakin berani dalam memberikan alibi dan pembenaran terhadap pelanggaran yang siswa lakukuan. Masalah narkoba, tawuran, dan masih banyak masalah serem-serem yang dilakukan oleh siswa yang saya tak tega menyebutkannya. Beneran saya takut, karena hal semacam itu memang tak patut terjadi, yang jelas, semua menggambarkan adanya kemerosotan nilai-nilai perilaku para siswa.
Jika sudah seperti ini, siapa yang akan disalahkan? Kemajuan jaman? Kemajuan Tekhnology? Guru? Orang tua? Atau pendemi?
Please dech, berhenti saling menyalahkan. Mending kita duduk bersama, mikir bersama untuk sama-sama keluar dari lingkaran masalah yang tak akan tuntas kita bahas meski se ember kopi habis sebagai suguhan diskusi.
Kemajuan jaman yang diiringi kemajuan teknologi tak bisa kita tuding sebagai penyebab kemerosotan nilai-nilai luhur yang kita punya. Mengapa, karena hal tersebut adalah kenyataan yang tidak bisa kita bendung dan harus kita terima, dengan senang hati maupun tidak. Kita semua ada dalam arusnya.
Sebagai guru, kita juga harus mengikuti perkembanagan technology yang begitu dahsyat agar tak terlibas kecanggihannya, namun justru harus bisa memanfaatkannya sebagai alat untuk mempermudah pentransferan ilmu pengetahuan maupun memberikan contoh nilai-nilai luhur untuk membentuk generasi muda yang berkarakter.
Sebagai orangtua pun tak luput dalam peran tersebut. Tak ada alasan sibuk untuk memperhatikan buah hati yang tak pernah meminta dan memilih dari orang tua seperti apa ia akan dilahirkan. Jangan menjadi orangtua yang hanya bisa menyalahkan kesalahan buah hati sebelum menelusur penyebab mengapa buah hati kita tergelincir pada sesuatu yang kita sebut salah.
Sepertinya pandemic akan menajdi kambing hitam paling hitam nih, mengapa? Karena sudah menjadi kebiasaan kita, terutama saya untuk laarut berpikir dan fokus pada masalah bukan mencari jalan keluar atau memetik hikmah dari masalah.
Sebenarnya, pandemic telah mengajari kita untuk lebih bijak dan berdisiplin, lebih perduli sesama dan menjadi lebih dekat bersama keluarga. Para orang tua bisa lebih dekat dengan putra putri mereka dan bisa lebih memiliki waktu berkualitas memberi tauladan terbaik kepada putra putri dalam pelukan.
Sedangkan para guru juga mempunyai keleluasaan waktu untuk meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan IT secara maksimal dalam pembelajaran yang saat ini telah menjadi kebutuhan bukan tuntutan. Keahliannya dalam mengguanakan IT akan memudahkannya dalam menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Bahkan akan sangat lebih mudah untuk menyampaikan berbagai nilai-nilai luhur melalui konten menarik yang diciptakan oleh guru.
Bila orang tua memahami kualitas waktu kebersamaan dengan putra-putrinya sebagai lingkaran terdekat pemberi ketauladanan nilai-nilai kebaikan, para guru handal dalam menggunakan IT untuk pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan bermanfaat sudah tentu para siswa akan secara otomatis akan terimbas hal positif dan bisa meminimalkan pengaruh negative yang menyertai kemajuan technology yang saat ini menjadi hal paling menarik bagi para generasi muda.
Tidak berfokus pada masalah, tetap berpikir positif untuk keluar dari setiap masalah, saling mendukung dan bekerjasama dengan baik adalah hal lebih bijak daripada saling menyalahkan.
Balung, 10 Maret 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
