Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Menyusun Serpihan Hati Halumma
hermin.gurusiana.id

Menyusun Serpihan Hati Halumma

# Hari ke-229

# Tantangan Menulis Gurusiana

Oleh: Hermin Agustini

SMPN 1 Balung

Seperti biasa pagi ini saya menunaikan tugas harian. Sebagai Ibu saya harus menyiapkan menu pagi dan siang, perkara makan malam apa kata nanti. Sebagai Istri pun begitu, menyediakan kopi pagi sebelum suami berangkat ke masjid adalah ungkapan cinta tak terbilang. Untuk Ibu yang sangat menyukai jamu godokan jahe, keningar, daun salam, serray dan kunyit sejak sebelum corona, terkadang beliau menambah daun apalah saya kurang pahan dan tidak banyak bertanya pada beliau yang sangat mempercayai bahwa ramuan itu bisa menyehatkan. Saya hanya membuatkan tetapi tidak ingin meminumnya, karena dengan tambahan daun itu, ramuan godokan menjadi pahit banget. Tapi sudahlah, siapkan saja agar ibu bisa meminumnya hangat sebelum mengkonsumsi pisang godok atau ketela kukus.

Sementara itu, putri semata wayang belajar melalui gawainya yang saya minta untuk loud speaker agar saya tau betul bahwa ia sedang menyimak mata pelajaran yang harus dipelajari sesuai jadwal ujian tengah semester yang akan ia hadapi. Hehe, kebiasaan ini untuk meminimalkan kemungkinan-kemungkinan kurang bermutu yang dia peroleh dari penggunaan gadget yang memang sudah mendadak mengikat ketergantungan kegiatan kita sehari-hari.

Setelah selesai belajar, biasanya dia minta ijin untuk tidur lagi dan akan bangun pada pukul delapan untuk mengikuti pembelajaran daring. Sebenarnya kebiasaan ini kurang baik. Tetapi dia punya alasan bahwa setelah tidur sejenak dia akan terbangun dengan kondisi tidak mengantuk dan siap belajar. Hmmm, masuk akal juga, maka saya pun mengijinkan dengan catatan bahwa tidak ada satu pun mata pelajaran yang tidak ia ikuti apalagi sampai tidak mengerjakan tugas. Untuk urusan tugas, biasanya sampai malam ia bersaing dengan saya, ia tidak akan tidur sebelum selesai mengirim tugasnya, heheh…, seperti saya yang tidak akan tidur sebelum upload tulisan ke gurusiana.

Biasanya, pada saat ia mengikuti ujian selalu saya damping meski hanya menjadi bayang-bayang penenang. Asal ada di sampingnya saja dia tenang, bagi saya ini adalah masalah yang sedang saya upayakan tidak menjadi kebiasaan baginya. Sejak perundungan yang ia alami sewaktu di sekolah dasar, rasa percaya dirinya kurang berkilau. Saya selalu berusaha mengutuhkan hatinya.

Tadi pagi dia harus mengikuti ujian daring tanpa pendampingan Bunda. Beberapa kali ia mengirim wa merengek ini itu tapi saya abaikan. Saya biarkan dia berproses mandiri dan percaya diri. Dia sebenarnya bisa dan menurut saya dia paham dengan soal yang dia hadapi (bukan karena dia anak saya lalu saya puji-puji, tetapi dibanding dengan yang lain, Alhmdulillah dia terasah untuk bernalar lebih baik). Tetapi ketidak pedeannya membelenggu keberaniannya untuk mengambil keputusan. Saya tau, ketidak tenangannya dalam mengerjakan soal, apalagi (menurut Ayahnya) dia sempat beberapa kali terpental keluar dari aplikasi Google classroom menyebabkan dia kurang fokus. Alhasil, dia mendapat nilai kurang memuaskan yang tentu berakibat pada pengerjaan soal berikutnya, dia mengerjakan dengan berurai air mata (Laporan dari si Ayah).

Pada saat saya sampai di rumah, ia sedang tidur pulas. Ketika bangun dia memanggil manja, “Bunda …,” saya tau dia ingin curhat tetapi ragu. Seketika saya hanya memeluknya, menciumnya dan mengusap punggungnya seperti ketika ia bayi, dengan bahasa itu saya ingin sampaikan bahwa saya menerima apapun yang akan ia sampaikan. Tetapi lidahnya seperti kelu, ia hanya bisa menghela napas panjang yang mulai berat (sesak napasnya sedikit kambuh).

“Hari ini adek hebat bisa mengerjakan ujian tanpa pendampingan siapapun,”

“Tapi adek dapet jelek, Bun, adek merasa jawabannya sudah benar karena dicatetan jawabannya seperti yang adik pilih itu,” meweknya tersengal tidak puas.

“Tidak masalah dengan perolehan nilai berapapun sayang, bunda tau adek bisa, yang terpenting adalah bagaimana adek berproses. Meskipun adek dapet nilai seratus, tetapi adek tidak paham dengan apa yang adek kerjakan, maka seratus itu sama dengan nol, Nak,” Saya meyakinkannya sambil terus memeluknya.

“Sayang, tugas-tugas adek tidak pernah ada yang kosong kan?” tatap saya membaca kejujuran di mata beningnya. Ia menggeleng dan saya tau bahwa urusan tugas memang hal yang tak boleh ia lalaikan.

“Nah, adek gak perlu khawatir karena nanti nilai adek akan diperhitungkan dengan nilai tugas dan ulangan harian sayang, bunda yakin nilai adek akan tetap sesuai dengan upaya yang telah adek lakukan.” Ucapan saya kali ini berhasil menenangkannya, nafasnya tak lagi berat, muram diwajahnya berganti pendar ceria meski rasa ketidak percayaan dirinya mesih belum sepenuhnya utuh, minimal hari ini dia telah berproses melewati harinya. Malam ini nafasnya sedikit berat, semoga besok membaik sebaik rasa percaya dirinya.

Meski ia anak semata wayang, saya tidak memanjakannya. Sebagai anak semata wayang, ia harus bisa mandiri bahkan lebih mandiri dari pada yang lain. Ia juga harus bisa berjuang lebih tangguh daripada yang lain. Semoga Allah senantiasa melindunginya, semoga selalu cerdas akalnya dan lembut hatinya sebagai anak sholehah penyejuk hati, kini maupun dikeabadian nanti.

Balung, 15 Maret 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post