Berselancar Bersama Buku
Berselancar Bersama Buku
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-284
# Tantangan Menulis Gurusiana
Pada tahun 1998, saat pertama menjadi PNS saya mendengar ada seorang teman kuliah, dek Tiwuk yang berhasil menerbitkan sebuah buku. Saya kagum sekaligus iri, namun tak tau harus bagaimana agar saya bisa seperti dia. Waktu berjalan, keinginan saya tetap tersimpan meski berdebu.
Pada tahun 2013, saya menuliskan sebuah buku berjudul “Let’s Listen and Speak English English” yang tak pernah bisa saya terbitkan karena saya belum tau caranya. Buku berikutnya yang saya tulis dengan judul “Cara Mudah Memahami Bahasa Inggris” pun hanya saya gunakan di lingkup kalangan sendiri untuk mengisi perpustakaan agar bisa dibaca oleh para siswa saya. Lagi-lagi, saya belum bisa menerbitkannya.
Saya terus mencari informasi dengan keinginan yang semakin kuat untuk belajar menulis dan menerbitkannya. Sampai pada suatu hari bu Mimin, sahabat saya memberi saya sebuah buku yang telah ia terbitkan. Mata saya langsung berbinar melihat nama Mimin Yulistiyowati terpampang pada cover dengan judul “Do’a 104 Kilometer.” Dari sahabat itulah saya mengenal pelatihan SaguSabu (Satu Guru Satu Buku) yang diadakan oleh Media Guru Indonesia.
Dari jadwal pelatihan yang tersedia, semuanya masih di luar kota bahkan di luar pulau. Saya menangkap makna bahwa pelatihan ini berlangsung di seluruh Nusantara dan tentu saja, pelatihan ini adalah sebuah pelatihan yang bergensi. Saya semakin ingin mengikutinya dan menunggu jadwal pelatihan yang pelaksanaannya tidak jauh dari kota saya agar saya bisa mudah menghadirinya. Beruntungnya, pada bulan Septermber 2019, saya bisa mengikuti pelatihan menulis SaguSabu di Bondowoso. Meskipun masih di luar kabupaten, namun masih sangat memungkinkan untuk bisa saya jangkau.
Pelatihan menulis yang diadakan oleh Mediaguru Indonesia selama dua hari tersebut benar-benar sebagai kunci sebuah kapal besar tempat saya akan berselancar melalui tulisan. Dalam pelatihan tersebut, saya merasa telah dirubah dalam sekejap untuk menghasilkan sebuah karya sekaligus mendapatkan fasilitas editor dan penerbitan. Luarbiasa, bukan?
Dalam pelatihan itu setiap peserta diminta membuat sebuah judul sekaligus sinopsisnya. Dan sinopsis terbaik akan mendapat the best cover pada hari berikutnya. Tentu saja bukan hal mudah bagi seorang pemula bagi saya. Hati saya ciut melihat teman-teman telah dengan lincah menggerakkan jemarinya menulis, sementara saya masih bingung akan menuliskan apa.
Untuk menulis buku pembelajaran tentu bukan hal mudah, sehingga saya memutuskan untuk menulis sebuah memoar yang akan lebih mudah bagi saya untuk mengembangkannya daripada saya menulis buku pembelajaran maupun buku pendamping siswa. Kala itu saya menuliskan sebuah judul “Nak, Duduklah Sebentar Bersamaku,” yang ternyata menjadi salah satu sinopsis terpilih untuk mendapatkan cover buku dan mendapat kehormatan menyelesaikan buku dalam waktu limabelas hari.
Sungguh di luar dugaan, bimbingan menulis yang saya ikuti benar-benar menjadi titik awal luarbiasa yang membawa saya berselancar mengenal banyak penulis dari seluruh penjuru Indonesia yang tergabung dalam sebuah kapal besar bernama MediaGuru Indonesia yang selalu melecutkan semangat dalam mendisiplinkan diri untuk tetap menulis dan memberi motivasi untuk terus berkompetisi melalui lomba-lomba menulis dalam ikatan silaturrahiem penuh mesra dalam sebuah blog bernama Gurusiana.
Sejak saat itu, semangat saya tak pernah pudar untuk terus menghasilkan karya hingga telah tiga buku solo dan tujuh antology telah berhasil terbit melalui Media Guru Indonesia. Saat ini pun saya masih dalam upaya menyelesaikan sebuah buku pemberlajaran. Saya merasa sangat bersyukur karena dengan buku yang berhasil saya tulis dan saya terbitkan akan bisa menginspirasi dan memberi manfaat bagi orang lain.
Buku telah merubah saya dari guru biasa yang tidak dikenal siapa-siapa selain teman sekantor menjadi guru yang kenal banyak orang di seluruh penjuru tanah air, apalagi teman dalam satu wilayah. Dulu, berpose dengan orang-orang penting hanyalah angan-angan, tetapi buku telah menjadi password yang memudahkan saya berpose dengan siapapun yang saya inginkan, bukan untuk kesombongan, melainkan keinginan untuk mengukir jejak terbaik yang ingin saya abadikan sebagai motivasi pada generasi yang akan datang.
Penulis yang terlahir di Bondowoso pada tanggal 31 Agustus 1972 adalah seorang guru bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Balung. Kritik dan saran yang membangun bisa diampaikan kepada penulis melalui email **(censored)** atau whatsapp **(censored)**
Balung, 10 Mei 2021


Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
