Mahkota Palsu 101
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-306
# Tantangan Menulis Gurusiana
“Tidak perlu ke rumah duka, kita ke pemakaman lain waktu saja. Kondisi Nela sangat tidak memungkinkan,” Kata Akung prihatin ketika Pak Armo telah menghidupkan mesin mobil siap berangkat.
“Yang sabar ya, Nduk,” kata Uti menenangkan Nela yang sejak tadi hanya menangis dan berujung pingsan. Tak ada yang ingin ia katakan. Uti sangat prihatin dan berduka menyaksikan putri sulungnya harus menghadapi kenyataan demi kenyataan pahit yang ia alami selama pernikahannya.
“Ini adalah pernikahan ke tiga yang dialami Nela, mengapa berjung duka ketika bahagia di depan mata?” gumam Uti dalam hatinya, ia terus berurai air mata menyaksikan kepediahan demi kepedihan Nela.
Mobil pun menuju perjalanan pulang. Akung tak akan tega menyaksikan putri sulungnya mendapat cibiran dan tatapan tidak bersahabat dengan tudingan sebagai pelakor. Akung tak rela putrinya mengalami kepedihan lebih dalam sehingga pulang adalah pilihan terbaik untuk menenangkan Nela.
***
Kepanikan dalam keluarga Nela membuat semua lupa mengabari Fatma yang ketika itu pulang memenuhi permintaan kakaknya untuk tasyakuran kecil. Nela tidak heran ketika ada beberapa orang di rumahnya sore itu, ia mengira kehadiran orang-orang di rumahnya adalah dalam rangka persiapan tasyakuran yang akan diadakan Nela.
Dengan sumringah Fatma memasuki rumahnya, tapi ia mendadak kaget melihat Yanti yang tampak sedih. Di rumah juga tidak ada kegiatan memasak besar yang menandakan akan ada tasyakuran. Alan tampak tidur di kamarnya. Dewa hanya terpaku di dekat Yanti.
“Ada apa? Mana Akung dan Uti? Mamamu ke mana?” Fatma bertanya sembari melongok menelusur seluruh ruangan penuh tanda tanya. Ia semakin gelisah. Ia pun menuju dapur. Di sana ada Bu Armo sedang mencuci piring.
“Ada apa ini, Bu Armo?” tanya Fatma resah.
“Loh, saya kira Neng Fatma pulang karena dapat kabar?” Bu Armo malah balik bertanya.
“Iya, tadi pagi mbak Fatma bilang kalo sore ini akan mengadakan tasyakuran karena surat cerai mas Bram keluar,” jawab Fatma.
“Loh …?” Bu Armo malah terlongong.
“Ada apa sebenarnya, Bu?” Fatma semakin penasaran.
“Pak Bram kecelakaan, Neng. Bapak, Ibu dan mbak Nela sedang ke rumah sakit memastikan keadaan Mas Bram katanya Kritis,” Kata Bu Armo menjelaskan.
“Ya Allah …,”Pekik Fatma kaget mendengar berita menyedihkan yang menimpa kakaknya. Ia pun buru-buru menelpon Akung untuk menanyakan kebenaran berita yang ia terima. Fatma semakin sedih karena kabar terkini, bukan hanya kritis, tetapi Mas Bram teah meninggal. Seketika itu Fatma menagis sedih. Kali ini ganti Bu Armo yang keheranan melihat Fatma tiba-tiba menangis.
Bersambung …
Balung, 31 Mei 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
