Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 92
www.google.com

Mahkota Palsu 92

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-281

# Tantangan Menulis Gurusiana

Njih, saya sangat paham apa yang akan njnengan pertanyakan,” jawab Bude Darmi sambil membenarkan posisi duduknya yang tidak nyaman setidak nyaman hatinya yang merasakan kegalauan tak menentu harus menanggung malu kepada keluarga Nela. Namun apa yang hendak dijelaskannya?

****

Pada siang yang gerah itu Bu de Darmi merasa semakin gerah dengan kehadiran Ayah Nela yang mempertanyakan keberadaan Tiyok yang ia pun tak mengerti kejelasannya.

“Saya sebenarnya merasa sangat malu dengan njenengan dan seluruh keluarga, gara-gara adik saya keadaan jadi tidak menentu. Saya sendiri prihatin dengan nasib kedua anak Tiyok yang ditinggalkan begitu saja di sini bersama kami dengan keadaan pas-pasan. Sementara mereka semakin butuh biaya besar,” kata Bu de Darmi menjelaskan betapa ia pun kebingungan menghadapi masalah tersebut.

Sebagai saudara tertua, sangatlah tidak mungkin bila ia mengatakan tidak tau menau tentang adiknya itu. Sebagai kompensasi dari rasa tidak nyaman itu Bu De Darmi berjanji akan mencari tau tentang keberadaan Tiyok.

“Mohon ma’af, kali ini kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi, ya masak selama setahun ini Tiyok tidak pernah sekalipun pulang ke rumah ini?” Sekali lagui Akung memberikan pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh Bude Darmi.

“Tiyok memang pernah beberapa kali pulang, namun ia tidak pernah lama. Tiyok hanya datang untuk memberi uang saku yang sebenarnya tak pernah cukup untuk keuda anak-anaknya,” Jawab Bude Darmi tertunduk sedih yang membuat Akung juga merasa iba kepadanya. Akung hanya bisa menghela napas panjang.

“Kalau begitu, saya minta tolong sampaikan surat ini kepada Tiyok. Sampaikan pula jika dia memang sudah tidak bisa mempertanggungjawabkan pernikahannya dengan Nela sebaiknya katakan terus terang jika ia ingin meninggalkan Nela. Hal itu akan lebih bisa kami ma’afkan dari pada menghilang tanpa kejelasan seperti ini,” ucap Akung panjang lebar meyakinkan Bu De Darmi agar Tiyok bertanggung jawab pada keluarganya.

Njih,” angguk Bu de Darmi sambil menerima sepucuk surat dalam amplop coklat tertutup yang diberikan oleh Akung kepadanya. Tanpa menunggu lama, Akung pun berpamitan. Akung ingin segera shalat dhuhur di masjid terdekat sembari memberi kesempatan pada Pak Armo untuk beristirahat. Sementara Dewa juga telah tampak lesu, pasti dia sedang lapar. Meski tak membawa hasil yang memuaskan, mereka akhirnya beranjak untuk pulang. Bersambung…

Balung, 7 Mei 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post