Mahkota Palsu 94
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-295
# Tantangan Menulis Gurusiana
Langit begitu cerah dengan matahari terik membuat penghuni bumi hanya nyaman dibawah teduh pepohonan bersama semilir angin menyejukkan. Suasana di rumah Nela tak ada yang berubah, TV yang selalu menyala menjadi teman kerja Nela di rumah jahitnya. Hapenya bersanding tak jauh dari mesin jahit tempatnya berkonsentrasi menjahit baju-baju pelanggan. Sementara Alan telah berusia tiga tahun tanpa kabar dari Tiyok sang Ayah.
“Mama…Mama…, dipanggil Atung!” seru Alan berlari kecil memanggil mamanya. Rupanya ia disuruh Akung agar mama Alan menemuinya. Seperti biasa, Nela tak akan segera beranjak sampai si Alan menarik-narik roknya.
“Ada apa sih?” tanyanya tanpa menoleh.
“Mama disuruh Atung ke sana!” rengek Alan terus menarik-narik rok Nela yang kemudian menuruti permintaan si Alan yang tumbuh makin cerdas menggemaskan.
“Ada apa, Kung?” tanya Nela ketika menemui ayahnya yang sedang duduk di sofa ruang tamunya.
“Seberapa serius hubunganmu dengan Bram?” Tanya Akung dengan nada sangat serius membuat Nela kaget dan tidak pernah menyangka.
“Ehm…, memangnya kenapa Kung?” Nela malah balik bertanya keheranan.
“Jawab pertanyaan Ayah, jangan malah kembali nanya,” jawab Ayah dengan tatapan tajam. Kali ini ia ingin Nela serius menjawab.
“Biasa-biasa saja, Yah,” jawab Nela datar tanpa beban yang membuat Akung selalu geram menghadapi sikap Nela yang tak pernah serius jika ditanya tentang hubungannya dengan siapapun padahal sudah jelas memberi efek kurang baik pada keluarga.
“Kepergian Tiyok yang tanpa kabar sampai detik ini apa juga kamu anggap biasa-biasa saja, Nduk? Apa kamu siap seandainya Tiyok benar-benar meninggalkan kamu dan Alan?” Suara Akung mulai bergetar menahan emosi. Serta merta Uti menyerahkan Alan agar diajak main oleh si Yanti sementara Uti langsung menghampiri Akung untuk menenangkannya. Raut sedih dan khawatir meliputi wajahnya yang tak lagi muda.
Nela hanya tertunduk tak berani menjawab apapun karena memang dia tak berpikir apapun. Dia sangat tidak ingin memikirkan apa-apa. Baginya pasrah adalah kenyamanan yang selalu ia ingin pilih. Apapun terserah apa kata nanti. Ia tak ingin pusing memikirkan apa-apa kecuali ingin bahagia.
“Bude Darmi tadi memberi kabar bahwa Tiyok telah menikah dengan perempuan lain di Malang,” Ucap Akung berhati-hati tak ingin membuat putri sulungnya shock. Sementara Nela hanya menyungging senyum yang tak seorang pun tau apa maknanya. Apakah berita ini membuatnya merasa sedih ataukah malah bahagia karena ia akan bisa bebas menikah lagi? Bersambung…
Balung, 21 Mei 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
