Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 95
www.google.com

Mahkota Palsu 95

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-296

# Tantangan Menulis Gurusiana

“Yang sabar, Nduk,” Ucap Uti menghampiri Nela dengan penuh keprihatinan menerima kenyataan putri sulungnya disakiti sedemikian lama. Uti merasa bersalah meminta Nela menunggu lama dengan status tak jelas. Namun bagai simalakama, membiarkan Nela segera menjalin hubungan dengan pria lain pun bukan hal yang baik karena lelaki yang mendekati Nela rata-rata telah beristri.

“Ini pelajaran berharga untukmu, Nduk,” Kata Akung memulai nasihatnya.

“Sejak awal, semua telah mengingatkanmu agar berhati-hati, namun tak ada yang kamu hiraukan, kini nasi telah menjadi bubur. Kamu harus berhati-hati untuk menentukan langkah berikutnya. Jangan “sembronno” lagi memilih pendamping hidup,” Akung menasihati Nela dengan keprihatinan yang amat dalam. Akung dan Uti merasa sangat iba kepada putri sulungnya yang tak beruntung dalam pernikahannya.

Keadaan menjadi hening, siang itu serasa sepi. Hanya deru debu dihembus angin dibawah terik matahari yang panas. Suasana hati Nela kosong, ia tak merasakan apa-apa. Sedih pun tidak, bahagia pun tak jelas. Dengan langkah gontai ia meninggalkan Akung dan Uti yang masih sangat prihatin memikirkannya.

Seperti biasa, gawai adalah tempatnya mencurahkan isi hatinya. “Selamat jalan cinta, semoga kau bahagia bersamanya. Aku pun ingin bahagia meski tanpa dirimu,” tulisnya di status whatsapp dan facebooknya yang tentu saja menuai komentar bermacam-macam dari semua teman-teman maupun saudara. Ditambah lagi dengan foto-foto cantik dirinya yang terpampang dengan berbagai pose tentulah sangat menarik peprhatian.

Tak lama kemudian gawainya berdering, profil laki-laki yang amat ia kenal memenuhi seluruh layar hapenya. Bram yang menaruh harapan besar pada Nela tentu saja merasa sangat diuntungkan dengan keadaan Nela saat ini.

“Halo Cantiiiik,” sapanya memanjakan Nela yang tentu saja tersenyum-senyum simpul mendengar segala rayuan Bram seolah tak merasakan duka kenyataan ia telah ditinggalkan. Namun sebaliknya, ia seolah mendapat password untuk lebih bebas bertindak tanpa khawatir akan disalahkan suami yang tak jelas baginya. Nela merasakan lebih baik ia tau Tiyok menikah lagi dari pada harus menunggu ketidak pastian.

“Iya Mas,” sahut Nela dengan suara yang dibuatnya manja.

“Berarti sebentar lagi aku boleh melamarmu, Sayang?” tanya Bram penuh semangat.

“Ceraikan istri cerewetmu dulu!” jawab Nela dengan nada merajuk.

“Sudah sayang, seperti yang telah aku katakan berulang-ulang bahwa aku sudah dalam proses cerai dan sudah pisah ranjang dengan mak Lampir,” ucap Bram meyakinkan Nela. Dan seperti biasa, obrolan rayuan meluncur tanpa terkendali dan terpikir. Nasihat ayah dan ibunya kembali tak terhiraukan. Bagi Nela, yang penting ia bahagia, tak berpikir apakah kebahagiaan ini akan baik untuk semua selamanya ataukah sesaat saja.

Bersambung…

Balung, 22 Mei 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post