Mahkota Palsu 96
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-296
# Tantangan Menulis Gurusiana
Nasihat ayah dan ibunya kembali tak terhiraukan. Bagi Nela, yang penting ia bahagia tak berpikir apakah kebahagian ini akan baik untuk semua selamanya ataukah sesaat saja. ****
Nela tak ingin berpikir, yang ia ingin hanya bahagia. Begitulah hingga hubungannya dengan Bram semakin dekat dan sampai pada pernikahan. Lagi-lagi pernikaahnnya kali ini harus dilakukan di bawah tangan karena urusan perceraian dengan istri pertamanya masih melalui proses panjang yang jauh dari mudah.
Proses persidangan demi persidangan masih terus berlangsung. Bram masih belum bisa dikatakan resmi bercerai selama belum menerima surat cerainya. Meski ia telah pulang ke rumah Nela, namun ia masih tetap wira-wiri menemui istri pertama dan anak-anaknya. Bram bisa pulang ke rumah Nela dengan syarat semua gaji pensiunnya diterimakan pada istri pertamanya. Sebelum urusan gono-gini selesai, Bram keluar dari rumahnya tanpa membawa aset apa pun kecual motor yang ia gunakan untuk wira-wiri.
Lagi-lagi Nela dihadapkan pada kenyataan yang tak seindah bualan dunia maya. Ia harus bersabar menerima Bram apa adanya. Untungnya, Bram adalah laki-laki yang penuh perhatian dan kasih sanyang pada Nela maupun anak-anaknya.
Meskipun secara ekonomi Nela tetap harus menjadi penopang utama dalam keluarganya bahkan masih selalu mendapat bantuan Ayah dan Ibunya, ia tetap merasa lebih bahagia daripada bersama Tiyok yang sering menghabiskan uangnya. Paling tidak, kali ini ada penghibur hatinya dan ada yang menemaninya menjaga anak-anaknya terutama si Alan yang masih sangat butuh perhatian seorang Ayah.
Dewa dan Yanti tak lagi asing dengan Bram yang memang telah mereka kenal sejak almarhum ayah mereka masih dinas sekantor dengannya. Mereka pun segera akrab dengan sikap baik Bram. Apalagi Alan, ia lebih sering bersama Bram daripada Akung karena si Akung memang sering kurang sehat.
“Sampai kapan proses perceraiannya selesai Mas?” tanya Nela pada Bram.
“Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan bisa melaksanakan pernikahan yang syah di Kantor Urusan Agama,” jawab Bram seperti biasa.
“Sudah hampir setahun gini-gini aja!” ketus Nela mulai merajuk.
“Tenang, yang jelas aku terus berproses dan aku sudah memilih kamu kan sayang?” rayu Bram menenangkan Nela yang hatinya selalu luluh dalam rayuan.
Bulan berlalu hingga pada suatu pagi Bram berpamitan pada Nela bahwa ia akan menghadiri siding terakhirnya sebagai keputusan bahwa ia akan resmi bercerai dengan istri pertamanya. Kali ini Nela tak ikut karena Bram meminta Nela menyiapkan menu masakan lebih banyak untuk tasyakuran kecil-kecilan.
“Berangkat dulu ya, Ma!” Seru Bram meninggalkan senyum pada Nela yang mengantarnya sampai di pintu depan rumahnya. Pagi itu adalah harapan baru bagi Bram dan Nela. Akankah bahagia menjadi milik mereka? Bersambung …
Balung, 24 Mei 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
