Mahkota Palsu 97
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-299
# Tantangan Menulis Gurusiana
Meski keadaan Bram tak sesempurna sebelumnya, namun sikap baiknya mampu menutupi seluruh kekurangannya. Tak terpikir oleh Nela bahwa sebenarnya ia hanya menambah beban keluarga dengan keberadaan Bram yang tak akan bisa memenuhi kebutuhan secara materi untuknya apalagi anak-anak. Namun bagi Nela, beda cerita. Di matanya, Bram adalah pria penyayang dan cukup romantic dengan segala rayuannya. Bram paling piawai menempatkan Nela di atas awan dengan banyak hayalan.
“Ma sayang, aku sudah sampai di pengadilan. Do’akan lancar ya sayang,” ucap Bram pada Nela melalui telepon ketika ia baru saja sampai di tempat persidangan. Tentu saja Nela serasa terbang ke awan mendengar segala rayu sejuta pesona dari Bram.
Pagi itu senyum Nela selalu terkembang, membuat wajah ayunya semakin ayu memendarkan suasana hatinya yang riang penuh harapan. Bram telah menjanjikan gemerlap bintang ketika ia telah memperoleh surat cerai dan mendapat harta gono gini.
“Bu, titip Alan ya!” seru Nela sedikit tergesa sambil mengeluarkan motor hendak berbelanja ke pasar untuk tasyakuran nanti sore sebagai perayaan kemenangan Bram. Uti pun tersungging senyum mendengar kabar kebahagiaan Nela.
“Iya, hati-hati di jalan. Alan biarkan bersama Uti seperti biasa. Ndak usah kamu titipkan wes otomatis”, sahut Uti sembari tersenyum ceria.
“Kamu nanti sore pulang kan, dek?” tanya Nela kepada Fatma melalui pesan whatsapp.
“Jadwalku pulang kan masih malam Minggu, Mbak?” jawab Fatma.
“Memangnya ada apa?” Fatma kembali bertanya penasaran.
“Ndak apa-apa, kalo bisa pulang ya pulang saja. Nanti mbak mau adakan pesta kecil untuk Mas Bram,” Nela menjelaskan dengan penuh semangat.
“Liat sikon, Mbak. Tapi tak usahakan pulang,” balas Fatma melegakan kakaknya yang terbuai harapan.
Hari semakin siang ketika tiba-tiba hape Nela berdering, dan terlihat gambar Bram memenuhi layar hapenya.
“Assalamu’alaikum, Mas?” sapa Nela dengan penuh kebahagiaan meyakini Bram akan membawa berita yang ia nantikan.
“Walaikum salam, ma’af apa benar ini mama Nela?” balas penerima telepon.
“Iya benar, saya mama Nela, ada apa ya? Kenapa hape suami saya ada di Anda?” Cerocos Nela gusar keheranan. Wajahnya mendadak pucat. Bibirnya tak mampu berkata. Ia pun lemas terduduk.
Kabar apakah yang Nela terima? Kemana Bram? Bersambung …
Balung, 25 Mei 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
