Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 98
www.google.com

Mahkota Palsu 98

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-300

# Tantangan Menulis Gurusiana

“Astagfirullah!” pekik Uti berlari menghampiri Nela seraya mengambil handphone dari tangan Nela. Akung pun berlari menghampiri pekikan Uti. Akung segera membopong Nela ke sofa.

“Halo ! … Halo...!” Seru Uti berusaha melanjutkan telpon yang belum ditutup.

“Tenang, Bu. Sekali lagi kami butuh informasi apakah benar ibu Nela adalah keluarga Bapak Bramantyo?” tanya seorang laki-laki dari seberang telpon.

“Iya, benar, Anda siapa? Ada apa?” Bicara dengan suami saya saja!” Kata Uti gelisah sembari menyerahkan handphone pada Akung. Uti pun berusaha menyadarkan Nela yang jatuh pingsan. Dewa segera memeluk Yanti dan Alan yang menangis melihat mamanya pingsan.

“Mama kenapa?” tangis Yanti sambil menggendong Alan yang ikut menangis karena Yanti menangis. Dewa menenangkan kedua adeknya dengan mengajak mereka menjauh dari mamanya. Dewa pun menghubungi Pak Armo agar segera ke rumahnya karena pasti Akung dan Uti akan membutuhkan bantuan Pak Armo yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Hanya beberapa blok di belakang rumahnya.

Akung terus menyimak penelpon tak dikenal itu yang ternyata dari pihak kepolosian yang mengabarkan bahwa Bram baru saja mengalami tabrak lari dan sedang kritis di rumah sakit.

“Baik Pak, terimakasih informasinya. Kami akan segera ke rumah sakit.” Jawab Akung dengan suara berat namun berusaha untuk tetap tenang.

“Dari siapa, Kung?” tanya Uti penasaran.

“Kita ke rumah sakit sekarang. Bram ditabrak lari dan sedang kritis,” Jawab Akung yang segera bergegas mengambil kontak mobilnya.

“Assalamu’alaikum” suara Pak Armo memberi salam membuat Akung lega karena memang sangat ia harpapkan.

“Walaikum salam, wah kebetulan sekali saya memang butuh Pak Armo,” Kata Akung menyerahkan kontak mobilnya.

“Njih Pak, barusan Dewa menelpon saya. Bagaimana keadaan Jeng Nela? Apa mau di bawa ke rumah sakit sekarang?” Tanya Pak Armo ikut khawatir karena saat Dewa menelpon hanya mengabarkan jika mamanya pingsan. Akung pun tak memberi penjelasan, pasti nanti Pak Armo tau sendiri.

Beberapa tetangga mulai berdatangan melihat tadi Pak Armo berlari kecil menuju rumah Ayah Nela. Mereka penasara, pasti ada hal genting yang sedang terjadi. Ibu-ibu membantu agar Nela segera siuman sambil bertanya apa penyebabnya.

“Suaminya kecelakaan, sekarang kritis di rumah sakit” kata Uti sambil menangis.

“Titip anak-anak ya, kami mau menemani Nela ke rumah sakit,” Lanjut Uti di sela tangisnya.

“Njih, Bu biar saya yang menunggu anak-anak di sini,” jawab Bu Armo yang mengikuti langkah Pak Armo tadi.

Rumah Nela semakin ramai oleh bebrapa tetangga. Di antaranya ada yang ikut membantu menaikkan Nela ke dalam mobil. Bahkan ada yang rela ikut ke rumah sakit untuk membantu memapah Nela bila sewaktu-waktu tidak kuat berjalan. Butuh waktu satu jam lebih untuk sampai ke rumah sakit. Namun hari itu perjalanan serasa teramat lambat…,

Bersambung …

Balung, 26 Mei 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post