Mahkota Palsu102
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-308
# Tantangan Menulis Gurusiana
“Ada apa Neng?” tanya bu Darmo semakin penasaran melihat Fatma menangis semakin pilu. Lama sekali Fatma terdiam dalam isak tangisnya. Lidahnya begitu kelu untuk menyampaikan berita duka.
“Kasihan mbak Nela, Bu,” jawabnya terbata di sela isak tangisnya.
“Mas Bram meninggal,” sambungnya menguatkan seluruh tenaga agar mempu mengucapkan berita duka itu. Tangisan Fatma tak lagi tertahan, membuat para tetangga yang sedang menunggui rumahnya ikut tersentak dan pilu.
“Jenazahnya jam berapa akan tiba di sini?” tanya pak RT yang biasa memimpin proses memandikan sampai pemakaman jika ada warganya meninggal. Fatma tak mampu menjawab, ia hanya menggeleng tanda tak tau.
“Telpon Akung saja,” kata Bu Armo memberi ide yang segera dilaksakan oleh pak RT yang kemudian berusaha menghubungi Akung.
“Njih, Pak, yang sabar,” ucap pak RT mengakhiri perbincangan dengan Akung.
“Bagaimana?” Tanya Dewa yang sedari tadi memeluk Fatma agar tantenya tak terlalu bersedih. Yanti pun ada dalam dekapan Fatma. Mereka bertiga berpelukan dalam duka.
“Jenazah dimakamkan di pemakaman dekat rumahnya, di sini hanya menggelar tahlilan,” kata Pak RT menjelaskan kepada warganya yang selalu sigap untuk saling membantu dalam kegiatan yang bisa dilakukan bersama.
Bu Armo berinisiatif memanggil beberapa ibu-ibu yang lain untuk membantunya memasak. Ia melanjutkan dan menambahi menu masakan yang tadi telah disiapkan Nela untuk tasyakuran malam ini yang berubah menjadi tahlilan.
Akhirnya rombongan kecil dari rumah sakit memasuki halaman. Pak Armo memarkir mobil tepat di depan teras. Tanpa aba-aba dari siapapun, para tetangga serentak berdiri bahkan ada yang membukakan pintu mobil.
“Ayoh dibantu, Mbak Nela masih pingsan,” Seru Pak Bayu yang membukakan pintu mobil. Maka beberapa orang dengan sigap membantu membopong Nela yang pingsan dan menempatkannya di kasur di ruang keluarga Akung. Sementara Uti terus mengolesinya dengan minyak kayu putih agar putrinya segera siuman. Ada pula yang memijit kaki Nela.
“Oalah, Nduk …, istigfar, Nela…,Nel …, sabar Nak, ayo bangun sayang! kasihan anak-anakmu, Nduk!” Kata Bu De Nela membisiki Nela agar segera siuman. Namun Nela seakan menolak untuk sadar. Sepertinya pingsan adalah hal ternyaman agar tak merasakan kehilangan yang mendalam.
Bersambung …
Balung, 2 Juni 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
