Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cinta Membawaku Kembali (Part 4)
hermin.gurusiana.id

Cinta Membawaku Kembali (Part 4)

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-358

# Tantangan Menulis Gurusiana

Kegamangan hati saya yang tidak segera berangkat menuju tempat tugas yang baru mendapat perhatian semua guru dan kepala sekolah sehingga diputuskan untuk menunjuk salah satu guru agar mengantar saya menemui kepala sekolah di tempat tugas baru yaitu Bpk Agus Sumarlan (alm), yang sebenarnya adalah mantan kepala sekolah SMPN 1Sumberjambe. Waktu itu yang mendapat tugas mengantar saya adalah Bapak Subagiyo, matursembahnuwun tak terhingga atas kesabarannya membawakan durian yang terpaksa diletakkan di bagian depan sepeda motor. Semoga tidak menyisakan luka guratan kulit durian di betis nggeh, Pak (mbrebes mili menulis bagian ini).

Kekhawatiran saya terburai melihat keramahan penerimaan Bapak Kepala Sekolah yang baru, bukan karena durian yang kami bawa, tetapi tentu karena beliau kenal baik dengan bapak Subagio selaku mantan anak buah beliau. Bagai seorang anak yang dititipkan ke sebuah kost-kostan baru, Pak Bagio menitipkan saya ke kepala sekolah di tempat yang baru. Dengan demikian saya merasa lebih tenang ketika harus bertugas di sekolah yang baru.

Di SMP Negeri 1 Balung, sebagai tempat baru saya bertugas, Alhamdulillah dipertemukan dengan orang-orang baik yang dengan hati terbuka membimbing saya belajar meniti karir. Meski dalam perjalanan, saya pun dipertemukan dengan banyak karakter yang membuat pelajaran hidup saya semakin indah bervariasi, kadang terjal kadang berliku.

Bekal ilmu dari SMP Negeri 1 Sumberjambe waktu itu benar-benar menjadi dasar langkah saya dalam menghadapi berbagai peristiwa. Saya sangat bersyukur mendapat pelajaran bahwa kekuatan terbesar di bumi adalah do’a, sehingga apapun yang saya hadapai mampu saya tenangkan dengan melangitkan do’a (terimakasih Pak Yai Nisful Laila yang telah memberi bimbingan sekaligus mengajari saya banyak hal yang hanya mampu saya serap sangat sedikit).

Kini setelah 22 tahun berlalu, saya tetap rindu pada suasana yang membesarkan hati saya, mendasari karakter saling perduli dan mengasihi, mendasari semua karena cinta dan kasih sayang Allah semata. Menghirup udara segar, memandang pemandangan alam lepas di lereng raung, serta memasuki sebuah pondok pesanten dengan tatanan asri, yang menurut saya sudah sangat standart jika disebut tempat belajar yang adiwiyata dan ramah anak.

(penelusuran suasana pondok dan panti asuhan akan saya lanjutkan pada pembahasan yang akan datang…)

Balung, 22 Juli 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post