Mendampinginya Catuh Cinta 2
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-362
# Tantangan Menulis Gurusiana
Saat si cantik hanya ingin menangis dalam pelukan, ingin rasanya menimangnya kembali dalam gendongan kain seperti dulu ketika masih balita. Kini hanya bisa memeluknya, merasakan isak tangisnya.
“Bun, ma’afin adek belum bisa bertanggungjawab dengan kegiatan adek sendiri. Adek gak bisa kayak bunda”, mak jleb rasanya. Rupanya Halumma Chalisa Fachiraku hatinya tergores perkataan bunda tadi pagi.
“Dek, cita-cita itu percuma kok tulis masio dengan tinta emas kalo adek gak bergerak, itu namanya halu. Cita-cita itu gak bisa diraih dengan mager ( males gerak, istilah anak2 sekarang)”, sepenggal omelan panjang saya di pagi hari ketika si Cah Ayu mager di tempat tidur dengan HPnya. Meski sebelum subuh dia sudah bangun, sholat subuh dan selalu mengaji, setelahnya dia kadang belajar kadang tidur lagi. Namun menjadi kebiasaan buruk saya, mengomel di awal pagi sambil melakukan banyak hal, hehe ciri khas emak-emak galau dengan daster kebesaran menyambut kegiatan pagi. Maunya, si cantik segera beraktifitas, jangan HP dulu apapun alasannya, wajib bersih dulu, rapi dulu baru beraktifitas.
Entahlah, saya langsung darting kalau melihat ada perempuan yang mengawali aktifitas pagi dengan HPnya, mungkin saya iri atau dengki ya? Entahlah, yang jelas saya tidak bisa terima kalau itu terjadi pada anggota keluarga saya apalagi si Cantik. Omelan panjang kali lebar kali tinggi meluncur membuat yang mendengarkan pusing, lah wong saya sendiri pusing. Sebenarnya saya kagum dan ingin jadi emak-emak yang selalu bisa lembut, sabar dan manis dalam setiap suasana. Tapi hanya bisa kagum sebab tidak bisa sepenuhnya melaksanakan, bukan tidak berusaha tapi jatuhnya ngegas juga, heheh.
Ternyata ada perkataan yang menggores hati si Chaca yang membuatnya tidak mampu berbicara kecuali menangis. Byuh, kebayang betapa rontoknya hati ini. Dia bilang gak bisa kayak bunda, kalimat ini membuat saya seketika tercekat telah tanpa sengaja memaksanya seperti saya, padahal dia adalah pribadi yang berbeda.
“Adek gak perlu seperti Bunda, Nak. Adek gak perlu belajar sekeras bunda karena adek lebih cerdas dari Bunda. Jika bunda sering bercerita bagaimana cara bunda berusaha, karena bunda tidak secerdas kamu sayang. Ma’afkan Bunda, Nak. Jadilah seperti yang adek mau, asal tetap bertanggungjawab dengan waktu. Bunda hanya tidak bisa toleransi pada mager,” Ganti saya yang berurai air mata menyesal membuatnya merasa berat. Ternyata saya masih belum sepenuhnya mendengarkan dia. Saya masih dominan bahkan memaksakan kehendak.
Malam ini saya masih mendampinginya mengerjakan tugas, memberi kesempatan dia chatting dan menunggunya meng offkan hp setelah saya beri waktu 30 menit untuk bebas HPan setelah aktifitas belajar. Ini sdh lewat dari 30 menit, dia sudah mengiyakan tapi belum juga off…hmmm…gemmes.
(Cerita berlanjut besok…)
Balung, 26 Juli 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
