Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mendampinginya Catuh Cinta 3
hermin.gurusiana.id

Mendampinginya Catuh Cinta 3

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-363

# Tantangan Menulis Gurusiana

Menunggu Cantikku mematikan HPnya dan upacara sebelum tidur, alias melakukan ritual merawat kulitnya sampai mapan ke tempat tidur butuh waktu sekitar tigapuluh menit. Saya menunggu dengan gemmes-gemmes gimana gitu, tapi tetap berupaya sabar meski satu panggilan panjang bak sirine sempat saya suarakan,”Deeeeeeeeeeekkkk…,”

Dengan panggilan itu dia lebih bergegas mapan untuk saya selimuti dan puk-puk. Pada saat seperti ini biasanya dia akan bercerita atau saya yang akan bertanya tentang apasaja. Namun semalam, sebelum saya sempat bertanya, dia memulai pembicaraan.

“Bun, supaya langsng bagaimana ya? Perutku rasanya tambah gendut,” Spontan saya, juga dia terpingkal dengan pertanyaan itu. Sebelum pandemi si Caca tergolong anak yang sulit makan. Tetapi sejak pandemi dan sering WFH, maka dia saya suapi. Bukan maksud memanjakan, tetapi ingin mengganti waktu yang pernah terlewat ketika tidak bersamanya. Juga dalam rangka membiasakan makan teratur supaya ketika keadaan normal, dia sudah terlatih makan teratur tanpa harus diingatkan atau disuapi.

Aturan saat makan disuapi bunda, tidak boleh menolak menu yang bunda racik di piring. Mau sayur, mau tahu atau ikan, semua tinggal kunyah. Sudah disuapi berarti tidak boleh rewel. Agak maksa ya? Entahlah, saya hanya ingin memastikan dia makan menu yang baik untuk pertumbuhannya. Dan Alhamdulillah berhasil, semenjak itu pertumbuhannya pesat dan alerginya tidak pernah kambuh.

Berat badannya juga kelihatan nambah terus karena ketika dia saya ajak berolahraga, bahkan saya mengundang guru prifat untuk membimbing dia olah raga rutin malah mberbes mili sepanjang latihan. Hmm…, ya sudahlah tidak saya paksakan. Ngajak bersepeda dengan Bunda, wah, ampun saya yang gak mampu. Akhirnya olahraga terabaikan. Untuk renang rutin seperti biasa juga gak berani.

Namun, obrolan sampai pada keinginannya untuk berolahraga, tapi bukan latihan seperti yang pernah disaranin bunda. Dia maunya ikut basket dan kebetulan club basket adanya masih di Jember kota. Mendengar keinginan berolahraganya yang kuat dan pertimbangan perkembangannya, maka saya iyakan saja sambil menunggu ijin ayah. Tapi biasanya kalo bunda siap dan bisa menyakinkan ayah, ya semua akan oke. Ini bukan konspirasi antara anak dan emaknya loh ya? Hanya begitulah seni meyakinkan Ayah.

Alhamdulillah, akhirnya Chaca terganbung dalam latihan basket di tempat baru di mana dia tidak kenal satu temanpun, Hati ini agak ciut melihatnya di lapangan dengan beberapa peserta lain. Ternyata ada beberapa coach yang menangani anak-anak dengan level masing-masing. Para pemula dengan pemula lainnya. Saya melihat senyumnya rekah dan menikmati latihannya, juga berkenalan dengan teman baru. Saya tau dia sedang jatuh cinta pada basket dan sedang berangan-angan dengan basket. Semoga apapun yang dia cintai saat ini adalah yang terbaik untuknya.

Bunda inshaAllah berupaya mendampingimu jatuh cinta, sebisa mungkin, semoga Allah selalu memudahkan dan menunjukkan yang terbaik dalam setiap langkahmu. Aamiin Ya Robbal alaamiin…

Balung, 27 Juli 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post