Mendampinginya Catuh Cinta
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-361
# Tantangan Menulis Gurusiana
Mau punya anak sepuluh atau pun semata wayang seperti saya, saya yakin rasa cintanya pasti sama. Jatuh cinta di awal kehadirannya dalam buaian sampai ia hadir ke dunia, bertumbuh kembang selalu mewarnai rasa cinta ini. Ada kasih sayang, cemburu, rindu, khawatir, selalu ingin tau tentangnya pasti dirasakan oleh semua ibu apalagi ibu yang baperan seperti saya.
Ketika putri saya mau lulus SD ia pernah menyampaikan keinginannya untuk mondok yang tentu membuat hati saya trenyuh. Bahasanya sangat tertata namun menyiratkan bukan bahasa hatinya, dan memang benar ketika saya telusur lebih jauh dan mencari tau banyak hal, ternyata keinginan tersebut karena bukan murni keinginannya. Meskipun seumpama saya loloskan, hal itu hanya akan membuat dia lega saat itu dan akan kecewa ketika temannya tidak jadi mondok.
Berbagai pertimbangan pun saya urun rembugkan dengan si Ayah dan buah hati. Mengajaknya mengobrol dan lebih banyak mendengarkan celotehnya, kami pun memahami apa yang benar-benar menjadi keinginannya, ternyata kegiatan pondok yang ada dalam benaknya tidak sama dengan faktanya. Maka kami berusaha menjelaskan hal baik, konsekwensi dan apa saja yang harus ia hadapi di pondok, bukan menakutinya tetapi membenarkan konsep yang kurang pas yang ada di benaknya.
Seiring waktu ia pun tumbuh dan berkembang, kini memasuki usia 13 belas tahun. Dia mulai bercertia tentang beberapa teman perempuan maupun laki-laki. Bagaimana mereka bergaul. Saling chating dan keseruan lain. Dia pun biasa menceritakan teman-teman barunya yang ingin berkenalan biasa sampai yang ingin menjadi teman dekatnya.
Meski hati ini bergemuruh cemburu, tapi saya harus tetap tenang menyimak setiap bagian ceritanya. Saya tak ingin ada satu cerita pun yang skip dari saya. Hehehe…, dan saya tidak pernah melarang ketika ia bercerita sedang suka pada salah seorang temannya. Saya mendengarkan dengan seksama bahkan menanyakan hal-hal kecil seputar temannya itu. Sambil lalu, pelan tapi pasti saya memutar otak agar apa yang dirasakan putri saya bisa saya alihkan.
Menemaninya, mendampingi kesehariannya, adalah hal yang selalu saya upayakan terjadi. Memeluknya ketikan hendak tidur adalah kebiasaan yang tak bisa saya lepaskan. Entahlah, untuk hal satu ini sebenarnya anak saya sudah tidak mau, saya saja yang belum bisa move on. Tapi biarlah, toh pelukan saya selalu bisa menengkan ketika si buah hati tampak galau. Tanap bercerita dia hanya bilang,”Bun, adek mau peluk dan nagis tok dipeluk Bunda,” di saat seperti itu saya tidak akan bertanya apa-apa selain memeluknya sampai ia pulas.
Mengenai apa yang ingin ia sampaikan, saya harus sabar sampai besok, …
Balung, 25 Juli 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
