Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Oleh Hermin Agustini
hermin.gurusiana.id

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-359

# Tantangan Menulis Gurusiana

Balung, 23 Juli 2021

Hamparan sejuk lereng semeru dan sejuknya udara selalu menjadi penanda jika sudah dekat dengan desa Sumberjambe. Cuaca masih pagi sehinnga pendar hangatnya cocok untuk menghangatkan gigil udara pagi itu. Ketiga putri cantik, anak-anak saya terdengar ceria mengoceh sepanjang perjalanan. Sesekali saya nyeletuk menjelaskan beberapa wilayah yang saya kenal dengan harapan mereka tau jejak perjalanan Bunda dahulu.

Sayang, sebuah warung yang dulu menjadi tempat untuk saya titipi es lilin buatan saya telah tak tampak, entah telah terganti banguanan lain atau telah direnovasi menjadi bangunan lain. Sepanjang perjalanan berkelok ke Sumberjambe benar-benar memberikan desir rindu yang teramat syahdu. Ada buliran bening di sudut retina yang mampu tertahan oleh keriangan putri-putri saya. Bayangan Ayah, Ibu dan orang-orang terkasih menggerakkan hati untuk membisikkan do’a terbaik semoga Allah selalu mengasihi mereka yang telah tiada.

Agak pangling ketika saya harus membelokkan mobil menuju kawasan pondok. Namun sebuah masjid besar dengan nuansa ukiran penuh makna yang bertengger megah dan menutup pandangan saya pada gunung raung menjadi penanda bahwa saya telah sampai dikawasan pondok yang dikeliling oleh beberapa lokal bangunan dengan ciri khas serupa, paduan ukiran dan dinding bamboo. Sangat etnik dan unik memberikan kesan semakin asri tenang dan damai.

Anak-anak langsung berhamburan keluar dan berselfi, sementara mata saya menelusur ke seluruh pondok sembari melepas masker dan menghirup segar udara pagi. Plong rasanya. Saya tidak langsung masuk ke ruang tamu melainkan memilih menikmati pemandangan pondok terlebih dahulu. Bunga-bunga krokot warna warni membuat tampilan nunsa bambu ini semakin cantik. Sepanjang mata menelusur, kedamaian menyeruak seluruh aliran darah. Mak nyessss….

Di depan ruang tamu besar asri itu saya menemui seorang perempuan lembut yang sangat saya kenal. Beliau adalah ibu Nyai, yang biasa akrab dipanggil dengan Mbak Ratih. Senyumnya selalu rekah. Kesederhanaan penampilannya selalu anggun menakjubkan. Beliau sedang asyik menata bunga-bunga bersama anak-anak putri pondok pesantren. Tawa sumringah dan sambutan hangat selalu menjadi ciri khas beliau kepada siapapun tamu yang datang.

Meski telah 22 tahun berlalu, mbak Ratih tetap saja anggun, cantik dan lembut selalu mempesona dan membuat saya malu sebagai perempuan. Tak mampu, tepatnya tak sanggup meniru tutur kata dan tatapan beliau yang selalu lembut. Ketenangan dalam sikap selalu menjadi ciri khas setiap warga dalam pondok pesantren Asy Syifa yang didirikan pada tahun 1997.

(penelusuran pondok berlanjut pada part berikutnya …)

Balung, 23 Juli 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post