Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mengapa Literasi Belum Menjadi Napas Sekolah?
gurusiana.id/herminagustini

Mengapa Literasi Belum Menjadi Napas Sekolah?

Oleh: Hermin Agustini

SMPN 4 Tanggul

Program pemerintah untuk mengingkatkan Literasi Indonesia telah banyak dilakukan melalui program komprehensif seperti Gerakan Literasi Nasional (GLN), mengintegrasikan literasi ke kurikulum sekolah (Merdeka Belajar), memperkuat Perpustakaan (Transformasi Inklusi Sosial), serta mendorong literasi digital dengan Pelatihan Kominfo, melibatkan pemangku kepentingan (swasta, komunitas), dan fokus pada Literasi Keluarga dan Masyarakat Desa, dengan tujuan membangun budaya baca dan kemampuan analisis di semua usia, bahkan meluncurkan program spesifik remaja seperti "Literasi untuk Generasi Emas".

Tahun 2016 menandai awal gerakan besar bernama Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Melalui kebijakan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, sekolah seolah mendapatkan napas baru. Murid-murid diberikan kebebasam memilih bacaan yang sesuai minat mereka, sebuah kemerdekaan yang pada awalnya disambut dengan antusiasme tinggi. Namun, di balik keriuhan itu, sebuah bom waktu bernama "kejenuhan" sedang berdetak.

Sebagai guru, saya menyaksikan transisi yang semakin menguras pemikiran. Gairah membaca yang awalnya membara perlahan meredup menjadi sekadar rutinitas administratif. Siswa memang membaca, lalu mereka menulis resensi. Namun, hasil tulisan itu mayoritas hanyalah ringkasan dangkal atau salinan mentah dari teks asli. Tak lama berselang, gerakan ini menghilang tanpa pesan, meninggalkan ruang kelas yang kembali sunyi dari diskusi buku.

Mengapa sebuah gerakan nasional yang didukung penuh bisa layu sebelum berkembang? Jawabannya terletak pada satu titik kritis ”karya siswa tidak memiliki muara.” Literasi selama ini hanya dipandang sebagai proses membaca tanpa memikirkan proses berkarya dan diapresiasi. Ketika siswa selesai membaca dan meresensi, naskah mereka hanya berakhir di tumpukan meja guru, terselip di buku tulis, atau bahkan langsung masuk ke keranjang sampah tanpa pernah dibahas atau dipublikasikan. Siswa kehilangan alasan penting untuk melakukannya karena mereka merasa suara mereka tidak didengar dan karya mereka tidak memiliki panggung.

Tanpa muara, aktivitas literasi ibarat air yang terbendung. Tidak ada kebanggaan, tidak ada diskusi, dan tidak ada dampak nyata yang mereka rasakan. Inilah yang menyebabkan minat membaca merosot tajam; mereka merasa sedang melakukan pekerjaan sia-sia.

Kekeliruan masa lalu ini menjadi pemantik kuat bagi saya untuk memperbaiki langkah. Untuk membangun budaya literasi yang tangguh, kita tidak boleh hanya berhenti pada kegiatan membaca. Kita harus menciptakan "muara" yang menampung ide-ide mereka, baik itu dalam bentuk mading yang hidup, buku antologi bersama, blog sekolah, atau forum-forum diskusi yang hangat. Harus dipastikan bahwa tidak ada lagi tulisan siswa yang "mati" di laci meja. Saya ingin setiap kata yang mereka tulis memiliki arah, tujuan, dan muara yang mampu memberi napas untuk mengangkat derajat berpikir mereka serta martabat bangsa.

Untuk memberikan muara kegiatan literasi sekolah tentu saja memerlukan kesiapan mulai dari tim yang solid, sarana prasarana dan alur muara literasi. Bagaimana kelengkapan langkahnya? InshaAllah saya lanjutkan besok. Salam Literasi. NdaeCha 26 Desember 2025.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post