Antara Bertahan dan Melepaskan
Oleh Hermin Agustini
SMPN 4 Tanggul
“Harus berani memutuskan, seberat apa pun, bila dalam pernikahan sudah tidak ada nilai ibadahnya,” kata Bu Rina sembari menatap Andini dengan penuh perhatian. Suaranya tenang, namun mengandung ketegasan yang tak bisa diabaikan.
“Iya, Bu, saya paham,” jawab Andini dengan linangan air mata. “Saya tahu saya tak mungkin kembali. Tapi untuk benar-benar memutuskan, mengapa rasanya sangat berat?”
Bukan karena ia masih mencintai Dion. Rasa itu telah lama terkikis oleh luka demi luka. Berat itu datang karena terlalu banyak perih yang telah ia telan, namun hingga detik ini ia belum sanggup mengucapkan satu kata yang akan mengakhiri segalanya, cerai.
Andini adalah perempuan mandiri. Ia tidak bergantung secara ekonomi pada suaminya. Tak mengapa baginya jika ia tak mendapatkan hak sebagai istri sepenuhnya. Namun ada satu hal yang tak mampu ia toleransi: perjuangannya yang selalu dianggap remeh dan ketiadaan penghormatan. Itu yang membuatnya tak sanggup kembali. Masalah rumah tangganya bukan semata tentang pengkhianatan Dion.
Jauh sebelum itu, Andini telah lama merasa rumah tangganya gersang. Dion terlalu acuh, bukan hanya padanya, tetapi juga pada keluarganya. Kehangatan yang seharusnya menjadi rumah perlahan berubah menjadi ruang kosong tanpa makna. Andini pernah yakin bahwa kebaikan mampu mengubah segalanya. Ia percaya kesabaran, doa, dan ketulusan dapat menjadikan Dion pribadi yang lebih baik. Namun keyakinan itu perlahan pupus, terkikis oleh sikap dingin yang tak kunjung mencair.
Di sisi lain, Dion sebenarnya menyadari perubahan itu. Ia tahu dirinya menjauh, namun ia tak pernah benar-benar mencoba mendekat kembali. Ada kekosongan dalam dirinya yang tak mampu ia jelaskan, kegelisahan yang ia tutupi dengan kesibukan dan diam.
DI mata Dion, Andini terlalu kuat. Terlalu mandiri. Ia merasa kehadirannya tak lagi dibutuhkan. Setiap kebaikan Andini justru membuatnya merasa kecil, seolah ia tak pernah cukup sebagai suami. Alih-alih berbicara, Dion memilih menghindar.
Ketika perempuan lain hadir, Dion merasa dihargai. Bukan karena cinta yang sejati, melainkan karena egonya menemukan tempat untuk disanjung. Ia tahu langkah itu salah, namun ia tetap melangkah, menunda keberanian untuk jujur, baik pada Andini maupun pada dirinya sendiri. Ia melihat kesabaran Andini berubah menjadi jarak. Ia menyadari tatapan mata istrinya tak lagi menunggu. Namun Dion terlalu pengecut untuk memperbaiki atau mengakhiri. Ia membiarkan waktu yang memutuskan segalanya.
Pukulan terkeras bagi Andini datang ketika ia mengetahui kenyataan yang selama ini samar: Dion memang tak pernah mencintainya. Ada perempuan lain di hidup suaminya, perempuan yang rupanya lebih ia pilih untuk diperjuangkan.
Sejak saat itu, Andini tak lagi memiliki kekuatan untuk bertahan. Namun anehnya, ia juga tak tega untuk melepaskan. Ada rasa bersalah yang menjerat, seolah keputusan berpisah adalah bentuk kegagalan, seolah ia adalah pihak yang menyerah.
Bu Rina menggenggam tangan Andini. “Nak,” katanya pelan, “ada luka yang tidak ditakdirkan untuk kita rawat terlalu lama. Melepaskan bukan berarti kalah. Terkadang, itu justru cara Allah menyelamatkan hamba-Nya.” Andini terisak. Kata-kata itu menembus lapisan pertahanannya. Ia sadar, selama ini ia bertahan bukan demi ibadah, melainkan demi kebiasaan dan ketakutan.
Andini menghela napas panjang, menghapus air matanya. Untuk pertama kalinya, ia berani mengakui pada dirinya sendiri bahwa rumah itu telah lama runtuh, dan ia hanya berdiri di atas puing-puingnya. Melepaskan memang menyakitkan. Namun terus bertahan dalam kehampaan jauh lebih melukai jiwa. Dan entah di mana Dion berada, ia pun akhirnya harus berhadapan dengan sunyi yang ia ciptakan sendiri, sunyi yang tak lagi bisa disalahkan pada siapa pun. NdaeCha, 7 Januari 2026.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
