Belajar Tanpa Aba-aba
Oleh: Hermin Agustini
SMPN 4 Tanggul
“Dek, coba tasmu yang berat itu ditaruh dulu. Terus HP-mu juga ditaruh dulu kalau ingin gerakanmu lebih cepat.” Maya mengucapkan kalimat itu sambil berdiri di ambang pintu. Pagi masih terburu-buru, sementara Rendra tampak tergopoh. Jam terus berjalan, tugas sekolah belum tercetak, dan tas punggungnya menggantung penuh beban. Namun ponsel tetap setia di tangannya, seolah menjadi pusat dunianya.
Kali ini Maya memilih hanya menyaksikan. Tidak membantu. Tidak ikut sibuk. Ia berdiri diam, memperhatikan putranya yang selama ini nyaris tak pernah bergerak tanpa aba-aba darinya. Bangun pagi harus disuruh. Makan harus diingatkan. Tidur malam pun harus diperingatkan agar tidak larut.
Maya baru menyadari, niatnya mendisiplinkan justru berbalik arah. Aba-aba yang terus ia berikan bukan membentuk kemandirian, melainkan ketergantungan. Rendra menunggu perintah, bukan mengambil keputusan. Ia sibuk dengan ponselnya, sementara hidup berjalan tanpa ia kendalikan. Akhirnya, Maya mengambil keputusan: menghentikan aba-aba.
Saat mereka hanya berdua, Maya berbicara dengan suara yang lebih tenang.
“Dek, harusnya kamu sudah bisa ngatur hidupmu sendiri. Kamu bukan anak kecil lagi,” ucapnya pelan, cobalah sebentar tanpa hape. Mosok sampai kayak mau mati kalau lepas dari hape.”
“Banget!” jawab Rendra ketus, matanya tak lepas dari layar ponsel, seolah protes yang selama ini terpendam ingin tumpah begitu saja. Maya menarik napas panjang. Ia menahan emosi, memilih diam. Ia tahu, sikap Rendra bukan tanpa sebab. Anak itu kecewa, pada keadaan ayah dan mamanya. Rumah mereka damai, tapi gersang. Tak ada pertengkaran keras, namun juga tak ada kehangatan. Rendra melihat semuanya, memahami lebih dari yang ia ucapkan. Ia tahu banyak, tetapi tak mampu bersuara. Sementara Maya memilih bertahan. Menyimpan luka dalam palung hatinya terdalam..
“Seharusnya kamu lebih tangguh,” bisik Maya dalam doa, bukan dalam nasihat. “Lihatlah Mama berjuang sendiri, bukan untuk mengeluh, tapi untuk menguatkan.Semua untukmu, sayang,”gumamnya dalam hati sembari pandangannya tetap awas menelusur jalanan hujan.
Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Hujan mereda. Rendra turun masih dengan tas di punggung dan ponsel di saku. Ia melambaikan tangan sekilas, lalu bergegas menembus pintu gerbang sekolah yang hampir ditutup. Maya menatap punggung remaja itu lama. Ia percaya, suatu hari Rendra akan paham bahwa kekuatan bukanlah bebas dari masalah, melainkan berani menghadapinya, meski tanpa aba-aba, meski tanpa layar yang menenangkan.
“Dek, kamu harusnya lebih semangat dengan keadaan ini. Jangan tumbang,” bisik Maya dengan mata yang mulai mengembun. Dalam hatinya Maya terus berdoa, semoga anknya mengerti. “Nak. Jadilah kuat. Jadilah sukses. Menangkan pertarungan hidupmu, tanpa aba-aba Mama.”
NdaeCha, 5 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
