Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kehilangan Paling Sunyi
gurusiana.id/herminagustini

Kehilangan Paling Sunyi

Oleh: Hermin Agustini

SMPN 4 Tanggul

Senyum Rina tak pernah absen.

“Ah, kalian ini bisa saja,” katanya sambil tertawa kecil ketika sepupunya menjatuhkan sendok ke lantai. Tawa Rina selalu datang lebih dulu, seolah ia bertugas mencairkan suasana sebelum siapa pun sempat merasa canggung.

“Kalau Rina nggak ada, rumah ini pasti sepi,” ujar ibu mertuanya suatu sore.

Rina hanya tersenyum. Dalam hatinya, ada sunyi yang tak pernah berani ia ucapkan.

Di tengah keluarga besar suaminya, Rina adalah perempuan yang selalu mengiyakan. Tak pernah berkata “tidak”, bahkan ketika hatinya menolak. Ia belajar mengalah sejak lama—demi disebut istri baik, menantu patuh, perempuan yang tahu diri.

Namun tak satu pun dari mereka tahu, betapa sunyi hidup yang ia jalani.

Malam itu, Rina duduk di ujung ranjang. Dion, suaminya, sibuk dengan ponselnya.

“Mas…” suara Rina pelan, hampir tenggelam. “Kenapa?” Dion tak menoleh. “Apa Mas masih mencintai aku?”

Dion terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Kamu capek, Rin. Jangan mikir yang aneh-aneh.”

Jawaban yang tak pernah benar-benar menjawab.

Beberapa minggu kemudian, kabar itu sampai ke telinga Rina. Dion memiliki perempuan lain. Dunia Rina seolah runtuh, tapi ia tetap datang ke acara keluarga dengan senyum yang sama.

“Rina kelihatan sehat ya,” kata salah satu iparnya. “Iya, Alhamdulillah,” jawabnya ringan.

Tak ada yang tahu, malam-malamnya penuh tangis tanpa suara.

Suatu hari, Rina memberanikan diri bicara.

“Bu… aku mau cerita,” katanya pada ibu mertuanya. “Cerita apa?” “Mas Dion… dia selingkuh.”

Ruangan mendadak sunyi. Namun bukan simpati yang datang.

“Lho, kok bisa?” tanya seorang bibi. “Kamu itu terlalu sibuk kerja, Rin. Laki-laki kan butuh diperhatikan,” sahut yang lain.

Rina menunduk. “Padahal aku kerja karena Mas Dion”

“Sudahlah,” potong ibu mertuanya. “Rumah tangga itu tanggung jawab istri. Jangan cari-cari alasan.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada pengkhianatan Dion.

Tak berhenti di situ.

“Dion jadi begitu karena kamu boros,” tuduh iparnya suatu siang. “Kamu habiskan uang suami!”

Rina tersenyum pahit. Padahal ia tahu, Dion yang malas bekerja. Dion pula yang menjual aset keluarga satu per satu. Dan Rinalah yang bangun pagi, pulang malam, menanggung hidup rumah itu sendirian.

Suatu malam, Dion berkata tanpa rasa bersalah, “Kamu kan kuat, Rin. Kamu bisa.”

Saat itulah Rina mengerti.

Ia bukan dicintai. Ia dibutuhkan.

Rumah yang selama ini ia jaga, ternyata tak pernah benar-benar menerimanya. Ia asing di tempat yang seharusnya menjadi pulang.

Di depan keluarga, Rina tetap tertawa. Tetap menjadi penghangat suasana. Tetap Rina yang ceria.

Namun ketika sendirian, ia menatap bayangannya di cermin.

“Aku kehilangan apa sebenarnya?” bisiknya. “Suami… atau diriku sendiri?”

Dan di situlah Rina paham, kehilangan paling sunyi bukanlah ditinggalkan, melainkan tetap tinggal tanpa pernah dianggap ada. NdaeCha, Januari 21 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post