Kiat Membudayakan Gerakan Literasi di Sekolah
Oleh: Hermin Agustini
SMPN 4 Tanggul
Literasi sekolah bukan sekadar rutinitas membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, apalagi sekadar merangkum teks yang belum tentu dipahami. Menanggapi keresahan akan stagnansi budaya literasi, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris Wilayah Jember Selatan menggelar pertemuan rutin di Dira Kencong pada Selasa (27/01/2026).
Hadir sebagai narasumber, Hermin Agustini S.Pd., M.Pd., membedah strategi melalui tajuk “Kiat Membudayakan Literasi Sekolah.” Dalam paparannya, terungkap bahwa kendala utama literasi belum membudaya adalah pemahaman yang kurang tepat tentang makna Literasi. Banyak pihak, mulai dari guru hingga orang tua, masih menganggap literasi sebatas aktivitas baca-tulis yang monoton yang hanya menjadi tanggungjawab guru bahasa..
Lima Kiat Membuadayakan Literasi Sekolah
Untuk mendobrak kejenuhan tersebut, Hermin merumuskan lima langkah strategis yang harus diambil oleh satuan pendidikan:
Penyelarasan Visi: Menetapkan literasi sebagai tujuan utama yang tertuang dalam visi sekolah. Peningkatan Kompetensi: Mengasah kemampuan seluruh warga sekolah melalui sharing session dan pelatihan berkelanjutan. Manajemen Tim: Membentuk Tim Literasi yang solid untuk menyusun modul dan rubrik penilaian yang objektif. Apresiasi Karya: Menyiapkan wadah untuk memuarakan hasil karya siswa; setiap tulisan dan ide harus dihargai. Sarana Prasarana: Optimalisasi perpustakaan dan pojok baca yang nyaman di setiap penjuru sekolah.Strategi Diferensiasi: Istimewa, Reguler, dan Prestasi
Salah satu poin menarik dalam diskusi ini adalah pendekatan berbasis diagnosa. Hermin menekankan pentingnya memetakan kemampuan dasar (calistung) siswa sebelum memulai program. Literasi kemudian dibagi menjadi tiga kategori:
Literasi "Istimewa": Pendampingan khusus bagi siswa yang belum lancar membaca. Literasi "Reguler": Penguatan kemampuan literasi umum bagi mayoritas siswa. Literasi "Prestasi": Inkubasi bagi siswa berbakat untuk dipersiapkan menjadi duta literasi dalam berbagai ajang lomba.Modul Integratif sebagai Solusi
Sebagai penutup yang konkret, narasumber membagikan contoh modul literasi yang mengintegrasikan tiga aspek utama: 6 Kemampuan Dasar Literasi, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan 8 Standar Kelulusan. Modul ini dilengkapi dengan lembar kerja siswa yang dapat diadopsi oleh guru di sekolah masing-masing.
"Literasi harus menjadi jiwa dari setiap aktivitas belajar, bukan beban tambahan bagi siswa," ujar Hermin menutup sesinya. Dengan adanya modul referensi ini, diharapkan sekolah-sekolah di Jember Selatan dapat segera melakukan tindakan nyata guna mencetak generasi yang literat dan berkarakter.
Salam Literasi!
Ndaecha, 27 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
