Layar Terkembang dalam Doa
oleh: Hermin Agustini
SMPN 4 Tanggul
“Kopinya sudah siap, Mas,” ucapku memecah keheningan pagi, seraya menyodorkan secangkir kopi pada suamiku. Lelaki itu selalu setia menemaniku memasak sebelum berangkat ke sawah. Obrolan kecil kami mengalir ringan di antara kicau burung yang bertengger di dahan-dahank kebun kami. Wangi bunga kopi menyatu dengan udara pagi yang mulai hangat oleh sinar keemasan mentari.
“Ayah berangkat duluan ya, Bun,” katanya sambil menyiapkan beberapa botol air dan seceret kopi lengkap dengan cangkir-cangkir seng.
“Iya, Ay. Nanti aku menyusul kalau sarapan sudah selesai,” sahutku, tetap sibuk menyiapkan masakan.
Aku menatap punggungnya yang menjauh. Dalam hati aku berucap syukur. Alhamdulillah, ya Allah, Engkau hadirkan suami pejuang keluarga.
Hamparan hijau daun tembakau membentang sejauh mata memandang, berhias bunga putih ungu yang meneduhkan mata dan hati. Musim panen tiba. Para buruh memetik daun tembakau dengan wajah cerah, penuh suka cita.
“Hati-hati, Bun,” kata suamiku saat aku tiba, membantu menurunkan wakul sarapan yang kubawa. . Taplak batik membungkus nasi jagung, sambal terasi, tahu, tempe, kukusan terong, dan ikan asin, menu sederhana yang selalu terasa istimewa bagi kami para petani di kaki Argopuro. Kelimpahan dalam kesederhanaan adalah keseharian yang kami jalani dengan penuh syukur.
Kebahagiaan kami kian sempurna dengan kehadiran putri kecil kami. Ia adalah matahari harapan di setiap helai daun tembakau. Kami menjaganya dengan doa dan kasih sayang. Celoteh bibir mungilnya bercerita tentang pipit dan kupu-kupu, tentang pelangi yang melengkung indah di langit khayalnya.
Namun hidup tak selamanya berlayar di laut tenang. Ketika dusta menyusup bersama angin sepoi, badai pun menjelma. Suamiku yang kini dikenal sebagai juragan tembakau, jatuh cinta pada salah seorang buruh kami. Tembang daun tembakau terdengar sumbang. Bunga putih ungu layu sebelum berkembang.
“Ceraikan aku, Ayah! Tugasku mendampingimu selesai!” seruku, air mata luruh tanpa dapat kutahan.
“Dengar penjelasanku dulu, semua bisa dibicarakan!” katanya lantang, namun suaranya terasa jauh di lorong hatiku yang mulai sepi.
Aku berlari menuju kamar putriku. Tangisnya pecah, wajah kecilnya tersembunyi di balik boneka kesayangan. Ia mendengar pertengkaran kami. Tubuhnya menghambur ke dalam dekapku.
“Aku tahu ibun sayang aku. Tapi ibun saja tidak cukup. Aku juga tahu ayah sayang aku, tapi ayah saja tidak cukup. Aku mau keduanya,” ucapnya terisak. Bahu kecil itu berguncang, dan pilunya menembus jantungku.
“Iya, sayang. Kita akan tetap bersama. Ibun baik-baik saja. Ibun tidak akan ke mana-mana,” kataku lirih, menahan gemetar.
Sejak saat itu aku belajar mengunci luka di relung terdalam hati. Aku harus berdamai meski dalam gersang. Bertahan meski arah tak lagi sama. Demi putriku, aku memilih menjadi nahkoda yang diam.
Kini aku tahu, tak semua biduk dianugerahi laut yang ramah. Ada retak yang tak bisa ditambal, ada arah yang tak lagi sejalan. Namun aku memilih tetap berlayar. Layar ini kukembangkan dalam untaian do'a, demi putriku, demi hidup yang harus terus bergerak. Biarlah luka kusimpan, sebab putih ungu bunga tembakau tetap mekar di ladang harapan. Selama doa masih kupanjatkan, biduk ini tak akan karam. Ia akan terus berlayar, meski pelan dalam ridha Sang Maha Penyayang. NdaeCha, 2 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan