Memilih Pergi
Oleh: Hermin Agustini
SMPN 4 Tanggul
“Aku capek, Tio,” kata Reta pelan.
Tio bahkan tidak menoleh. “Capek apa? Kamu hidup enak. Semua aku sediakan.”
Reta tersenyum pahit. “Aku cuma minta didengar.”
Tio tertawa kecil. “Didengar? Kamu mau apa lagi? Rumah, uang, semua ada. Jangan drama.”
“Aku terluka,” suara Reta bergetar. “Terluka karena apa?” Tio menyilangkan tangan. “Aku nggak selingkuh. Nggak pernah kasar. Kamu berlebihan.”
Reta menatapnya lama. “Kamu nggak pernah merasa salah, ya?”
“Karena aku memang nggak salah,” jawab Tio cepat. “Kalau kamu pergi, kamu yang rugi.”
Kalimat itu seperti palu terakhir.
“Aku bukan barang, Tio,” ujar Reta lirih. “Harga diriku bukan bagian dari hartamu.”
Tio mendengus. “Kamu pikir bisa hidup tanpa aku?”
Reta mengangguk pelan. Air matanya jatuh, tapi langkahnya mantap. “Lebih baik miskin ditemani sepi, daripada kaya tapi kehilangan diri sendiri.”
Ia mengambil tasnya.
Tio tetap berdiri. Tidak mengejar. Tidak menahan. Karena egonya terlalu tinggi untuk mengakui kehilangan. Ini semakin meyakinkan Reta untuk melangkah. Ia semakin yakin bahwa dirinya tak pernah dihargai.
NdaeCha, 28 Januari 2026.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
