Menghilang dalam Sepi
Oleh: Hermin Agustini
SMPN 4 tanggul
Jika suatu hari nanti aku menyerah, bukan karena cintaku sirna. Justru karena cintaku telah berjalan terlalu jauh tanpa pernah benar-benar disambut. Aku belajar diam, belajar menunggu, hingga akhirnya lelah itu tumbuh tanpa suara. Ketika hujan jatuh tanpa jeda malam itu, alam seperti bernafas pelan. Aku duduk di tepi jendela, memandangi bayangan sendiri yang terpantul samar di kaca. Di sanalah aku menyadari, aku telah terlalu sering menahan, terlalu lama menggenggam sesuatu yang tak ingin menetap.
“Aku rela kau pergi melangkah,” bisikku pada sunyi. Kalimat itu terasa pahit, namun jujur. Mencintaimu ternyata belajar merelakan, bukan memiliki. Aku tak ingin lagi mengusiskmu dengan harapanku. Aku tahu, kehadiranku kerap terasa seperti beban. Ma’afkan bila aku pernah menuntut perhatian, selalu berharap kau menetap. Namun cinta tak pernah bisa dipaksakan. Maka pergilah. Terbanglah bebas ke mana kamu mau.
Jangan biarkan namaku menjadi jangkar yang menahan sayapmu. Aku akan menjaga jarak, sejauh yang kubisa. Bukan karena aku tak peduli, melainkan karena inilah caraku mencintai dengan cara yang paling sunyi. Aku memilih menghilang perlahan, menyatu dengan sepi yang kian menelan. Biarlah sepi ini kugenggam sendiri, agar kau tak lagi merasa terbeban oleh rasa bersalah atau janji-janji yang tak pernah kau tepati.
Maafkan aku yang terlalu sering mengetuk pintu hatimu, berharap kau membukakan sedikit ruang. Selama ini aku berjuang. Aku menyusun harap dari hal-hal kecil, menyiapkan kopi, memasak kesukaanmu meski kutau tak pernah kau sentuh meski tatapanmu tak lagi menetap. Aku menunggu pengakuan yang tak pernah datang, penghargaan yang selalu tertinggal di persimpangan waktu. Kini aku paham. Tak semua perjuangan berakhir dengan pelukan. Tak semua cinta perlu dimenangkan. Ada cinta yang hanya mengajarkan keikhlasan.
Hujan akhirnya reda, aku menutup jendela, mematikan lampu, dan membiarkan gelap memelukku. Di dalam gelap itu, aku tak lagi menunggumu. Aku hanya belajar berdamai dengan rasa kalah yang pelan-pelan berubah menjadi tenang. Jika suatu hari kau mengingatku, ingatlah aku sebagai seseorang yang pernah mencintaimu dengan seluruh keberanian yang ku punya. Tetapi jika tidak, itu pun tak mengapa. Sebab aku telah memilih pergi dengan semua luka. Aku akan baik-baik saja. Bersama sepi yang akhirnya belajar kupeluk sebagai rumah.
NdaeCha, 4 Januari 2026
#tagur4#
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
