Mug ke 22
Oleh: Hermin Agustini
SMPN 4 Tanggul
Aroma kopi menguar pelan dari mug putih yang Mia genggam. Uapnya naik tipis, seperti napas yang ditahan terlalu lama. Jari-jarinya melingkar di gagang mug itu, mug yang ia pesan khusus untuk ulang tahun pernikahannya yang ke-22.
Di permukaannya tercetak foto dirinya dan Pram.
Tidak ada pelukan. Tidak ada senyum berlebihan. Hanya dua wajah yang berdiri berdampingan, tenang, matang, seperti dua orang yang sudah lama belajar bertahan.
Tak ada yang tahu alasan sebenarnya Mia memesan mug itu.
Bukan sekadar hadiah.
Bukan pula kenang-kenangan.
Mug itu adalah prasasti. Pengingat. Pengikat.
Pengikat bagi seorang suami yang pernah tergelincir ke pelukan perempuan lain.
“Biar kamu ingat,” gumam Mia lirih pada bayangan dirinya sendiri di permukaan kopi. “Kalau kita ini pernah kuat.”
Langkah kaki terdengar dari ruang tengah. Pram muncul, merapikan jam tangannya.
“Kopinya nggak diminum?” tanyanya singkat.
Mia mengangkat wajah. Menatap Pram sebentar. Tatapan yang sudah kehilangan kebiasaan untuk berharap.
“Nanti,” jawabnya datar.
Pram mengangguk. Tak ada tanya lanjutan. Tak ada perhatian lebih. Seperti biasa.
Mia menurunkan pandangannya kembali ke mug itu. Dulu, ia berharap setiap tegukan kopi Pram dari mug tersebut akan mengembalikan kesadaran, tentang janji, tentang rumah, tentang kepercayaan yang pernah ia berikan dengan seluruh hatinya.
Nyatanya, harapan itu pelan-pelan mati.
Bukan karena dendam.
Bukan pula karena benci.
Justru karena lelah.
“Mia,” panggil Pram sambil meraih tas kerjanya, “aku berangkat.”
“Iya.”
Satu kata. Cukup.
Pintu tertutup. Sunyi kembali mengisi rumah.
Mia menghela napas panjang. Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Semua upaya bertahan yang selama ini ia rawat, satu per satu, tumbang tanpa suara. Ia sudah terlalu sering diam, diam menelan kecewa, diam menunggu perubahan, diam menuntut hal-hal yang tak pernah sungguh diberikan Pram sebagai kepala rumah tangga.
Terlebih setelah Pram kembali merobek kepercayaan yang sempat Mia tambal dengan doa dan kesabaran.
“Sudah cukup,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Langkah kecil terdengar dari kamar.
“Ibu?” suara itu memecah sepi.
Mia menoleh. Putra semata wayangnya berdiri di ambang pintu, rambutnya masih acak, matanya mengantuk.
“Ibu kenapa bengong?” tanyanya polos.
Mia tersenyum. Senyum yang lebih tulus dari yang bisa ia berikan pada suaminya.
“Nggak apa-apa, Nak. Sini,” katanya sambil menepuk sofa di sampingnya.
Anak itu duduk, menyandarkan kepala di bahu Mia.
“Ibu capek?”
Sedikit. Tapi yang ini jujur.
“Ibu cuma lagi mikir masa depan kamu,” jawab Mia pelan.
“Bareng Ayah?”
Pertanyaan itu seperti jarum halus yang menusuk dada.
Mia mengelus rambut anaknya. “Bareng Ibu juga cukup, ya.”
Anaknya mengangguk, tak sepenuhnya mengerti, tapi percaya.
Di situlah Mia mengambil keputusan yang sudah lama matang dalam diam.
Ia tak akan berisik menuntut cinta. Tak akan mengemis perhatian, bahkan jika itu hak anaknya. Ia menolak mewariskan luka mental yang selama ini ia tanggung sendiri.
Lebih baik menepi. Lebih baik membawa anaknya menjauh dari kebisingan luka.
“Apa pun yang terjadi,” bisik Mia sambil memeluk anaknya erat, “Ibu janji, kamu akan berhasil.”
Mug di meja masih mengepul. Foto di permukaannya tetap sama,dua orang yang pernah kuat.
Kini, Mia tahu, kekuatan itu tinggal miliknya sendiri.
NdaeCha, 29 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
