Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Perempuan
gurusiana. id/herminagustini

Perempuan

Oleh: Hermin Agustini

SMPN 4 Tanggul

Sore itu langit menggantungkan mendungnya. Arina baru saja keluar dari halaman kantor, menyusuri jalan dengan melaju pelan. Gerimis turun rintik-rintik, cukup membuatnya menyalakan wiper agar pandangan tetap jernih.

Di sebuah pertigaan, lampu merah memaksanya berhenti. Pandangannya tertumbuk pada sebuah sepeda motor tua. Seorang perempuan membonceng balita, mungkin empat tahun usianya. Anak itu diletakkan begitu saja di keranjang plastik di depan motor, tanpa helm, tanpa pengaman. Tangannya sibuk memainkan tali plastik, tertawa kecil menatap perempuan yang sesekali mengusap kepalanya yang basah dengan kasih sayang.

Arina tercekat melihat perempuan yang tampak lusuh itu. Kakinya telanjang menyentuh aspal basah, rambutnya kusut tak terawat, kuku-kukunya menghitam oleh entah pekerjaan apa. Tubuh itu seperti memanggul beban hidup yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.

“Ke mana ayahnya?” gumam Arina lirih. “Di mana?”

Tangannya refleks meraih dompet. Ia ingin memberi sekadar uang jajan, sekadar penghiburan kecil bagi balita yang tak tahu apa-apa tentang dunia. Namun peluit pengatur jalan melengking, tanda kendaraan harus segera melaju. Lampu hijau menyala. Arina terpaksa menginjak gas, meninggalkan pertigaan itu dan membawa pertanyaan-pertanyaan yang ikut menumpang di dadanya.

Pikirannya bergemuruh. Bukankah seharusnya yang bertanggung jawab memberi nafkah adalah suaminya? Jika tak mampu, mengapa menikah? Mengapa melahirkan kemiskinan baru ke dunia yang sudah sesak oleh luka? Dan perempuan itu, mengapa ia mau? Apa yang ada di kepalanya saat memilih laki-laki yang tak bertanggung jawab?

Cinta?

Sebodoh itukah cinta hingga menghempaskan seseorang pada kesengsaraan panjang? Jika memang cinta, mengapa selalu perempuan yang harus membayar segalanya? Mengapa lelah, lapar, dan takut itu selalu bermuara pada tubuh perempuan?

Kenapa harus perempuan?

Pertanyaan-pertanyaan itu berdesakan, menuntut jawaban yang tak pernah benar-benar ada. Arina menggenggam setir lebih erat. Dadanya sesak, seolah mendung di langit tadi turun dan menetap di dalam dirinya. Tiba-tiba buliran bening jatuh di sudut matanya, mengalir tanpa izin. Sembari menyeka air matanya, ia pun tersenyum pahit. Bukankah ia sama saja dengan perempuan itu?

Arina juga perempuan yang pernah percaya pada cinta. Juga pernah yakin bahwa semua akan baik-baik saja asal dijalani bersama. Saling melengkapi. Namun pada akhirnya, ia belajar bahwa kata bersama sering kali hanya berarti satu orang bertahan, sementara yang lain pergi atau menghilang dari tanggung jawab.

Ah, perempuan. Sebodoh itukah hingga harus menanggung segalanya sendirian? Atau justru terlalu kuat, sampai dunia merasa wajar menyerahkan semua beban ke pundaknya? Gerimis kian rapat. Arina melaju, membawa pulang tubuh yang lelah ke rumah yang tak pernah lagi menyambutnya.

NdaeCha, 13 Januari 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post