Perempuan
Oleh: Hermin Agustini
SMPN 4 Tanggul
Siang itu, matahari seolah tepat berada di atas ubun-ubun pasar tradisional. Namun, di pojok warung es dawet Mak Siti, udara terasa beku oleh keheningan yang menyesakkan.
"Gak habis pikir aku, Kak," ucap Ajeng lirih. Tangannya sibuk mengaduk es dawet yang butiran esnya mulai mengecil dan menyatu dengan santan. Matanya kosong, menatap nanar pada nangka yang terapung di gelasnya.
Nora menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu yang reyot, seolah ingin menitipkan seluruh beban hidup yang membebani pundaknya pada sandaran kursi itu. "Bukan cuma kamu, Jeng. Aku sendiri pun... ya, begitulah. Gak habis pikir."
Bagi Ajeng, rumah adalah medan perang tanpa senjata. Sebagai ibu rumah tangga yang tak memiliki penghasilan sendiri, ia merasa seperti tamu di rumahnya sendiri. Setiap sudut ruangan diawasi oleh mata tajam ibu mertuanya. Sedikit debu di atas lemari atau nasi yang agak lembek adalah alasan bagi sang mertua untuk melontarkan kata-kata pedas.
Penderitaannya makin lengkap dengan sikap suaminya, Bayu. Alih-alih menjadi pelindung, Bayu justru menjadi hakim yang selalu mengetuk palu kesalahan pada Ajeng. "Kamu itu yang kurang sabar menghadapi Ibu," atau "Makanya hemat, jangan boros terus," adalah kalimat yang sering Ajeng dengar saat ia mencoba mengeluh tentang uang belanja yang tak pernah cukup untuk kebutuhan pokok.
Di sisi lain meja, Nora menelan ludah yang terasa pahit. Ia adalah kebalikan dari Ajeng, Nora perempuan karier, mandiri, dan menjadi tulang punggung keluarga besarnya. Namun, kemandirian itu justru menjadi senjata yang menikamnya dari belakang.
Nora baru saja mendapati suaminya berselingkuh. Luka itu makin menganga ketika ia mengadu kepada keluarga besar suaminya. Alih-alih mendapat pembelaan, ia justru disidang. "Ini karena kamu terlalu sibuk, Nora. Laki-laki itu butuh diperhatikan, bukan cuma dikasih uang. Wajar kalau dia mencari kenyamanan di luar," ujar kakak iparnya tanpa dosa.
Mendadak suasana hening. Hanya terdengar bunyi denting sendok yang beradu dengan gelas kaca. Ajeng menatap Nora, dan Nora menatap Ajeng. Mereka melihat pantulan luka yang sama di mata satu sama lain, ketidakadilan.
Lalu, entah siapa yang memulai, bibir Ajeng bergetar. Tawa kecil keluar dari mulutnya. Nora pun ikut terkekeh. Semakin lama, tawa itu semakin kencang hingga memenuhi sudut warung yang sepi. Mereka tertawa lepas, dibarengi dengan buliran bening yang mengalir deras di pipi masing-masing. Mereka menertawakan takdir, menertawakan stigma, dan menertawakan dunia yang selalu punya cara untuk menyalahkan perempuan, baik dia yang hanya diam di rumah maupun dia yang banting tulang di luar.
"Lucu ya, Jeng? Kerja salah, gak kerja juga salah," ujar Nora di sela isak tangis yang terbungkus tawa.
"Iya, Kak. Ternyata kita cuma butuh es dawet ini buat sadar kalau dunia memang gak waras," timpal Ajeng sembari menyeka air matanya dengan ujung jilbab.
Tawa itu seolah menjadi mantra.
Perlahan, sesak di dada mereka sedikit terangkat. Di bawah atap warung sederhana itu, Ajeng dan Nora tahu bahwa meski dunia tidak adil, setidaknya mereka tidak sendirian menghadapi ketidakadilan itu. Es dawet itu kini sudah mencair sepenuhnya, tapi hati mereka justru kembali mengeras, siap untuk kembali pulang dan menghadapi "perang" selanjutnya.
NdaeCha, 25 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
