Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Perempuan Selalu Salah
gurusianan.id/herminagustini

Perempuan Selalu Salah

Oleh: Hermin Agustini

“Ma, Mas Aldi sudah dua tahun ini selingkuh,” ucap Maya pelan sambil menyodorkan segelas air dan obat diabetes kepada ibu mertuanya.

“Terus?” jawab perempuan tua itu datar, tanpa raut kaget.

Maya menarik napas. Ia sudah hafal benar sikap itu. Sejak awal pernikahan, tak pernah ada pelukan hangat atau kata lembut untuknya. Namun Maya memilih bertahan. Dalam hatinya, ia menganggap merawat ibu mertuanya sebagai bakti kepada orang tuanya sendiri yang telah lama meninggal. Ia percaya, berbuat baik tak perlu menunggu dicintai.

Setiap pagi, Maya memandikan, menyuapi, dan menemani ibu mertuanya. Sementara Aldi, suaminya, jarang datang dengan alasan rikuh mengurus ibu kandungnya sendiri. Maya tak ingin berdebat. Biarlah dosa durhaka itu bukan miliknya. Ia hanya ingin melakukan yang ia yakini benar.

Anak-anak kandung ibu itu pun jarang hadir. Alasan mereka klasik: ekonomi, masa lalu yang pahit, dan luka pengabaian. Maya tak sepenuhnya mengerti, tapi ia tetap memilih memberi kasih sayang. Ia berharap, kebaikan bisa menumbuhkan cinta di tanah yang gersang.

Harapan itu runtuh saat Maya tahu ada perempuan lain di pernikahannya. Lebih runtuh lagi ketika keluarga besar suaminya memilih tidak perduli malah menyalahkannya.

“Wajar kalau Aldi begitu,” kata ibu mertuanya setelah menelan pil. “Kamu terlalu sibuk kerja. Lupa mengurus suami.”

Kata-kata itu menampar lebih keras dari pengkhianatan itu sendiri. Maya tersenyum pahit. Ia yang menjadi tulang punggung keluarga, yang memastikan dapur tetap mengepul, yang merawat ibu mertua ketika yang lain pergi, tetap saja salah.

Di titik itu, Maya paham. Di keluarga ini, perempuan hanya dihitung dari kekurangannya. Kebaikan tak pernah dicatat, pengorbanan tak pernah diingat.

Hatinya bergemuruh. Tangis yang selama ini ia simpan berubah menjadi tekad. Bukan dendam, bukan amarah, melainkan keberanian untuk pergi. Untuk melepaskan diri dari lingkaran yang tak pernah menghargainya.

Untuk pertama kalinya, Maya memilih dirinya sendiri.

Ndaecha, 15 Januari 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post