Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Rumahkau bukan Rumah
gurusiana.id/herminagustini

Rumahkau bukan Rumah

Oleh: Hermin Agustini

Andin menghempaskan penatnya begitu kakinya menjejak lantai rumah itu. Rumah yang secara alamat masih miliknya, tetapi secara rasa sudah lama berhenti menjadi tempat pulang. Dindingnya masih sama, perabotnya tak banyak berubah, namun udara di dalamnya terasa asing, seperti menyambut tanpa benar-benar mengundang.

Ia pulang bukan untuk dirinya. Sejak lama, kepulangannya hanya memiliki satu alasan: menjaga agar hati buah hatinya tetap utuh. Selebihnya, Andin hanyalah tamu yang datang dan pergi dengan sisa tenaga.

Malam ini ia pulang terlalu larut. Jam di ponselnya menunjukkan lewat tengah malam ketika kunci beradu pelan dengan lubang pintu. Andin menahan napas, memastikan langkahnya tak mengusik sunyi. Rumah itu tidur, atau pura-pura tidur, sama seperti penghuninya yang lain.

Di tangannya tergenggam sekantong jeruk sunkist. Oranye cerah, harum segar—kesukaan anaknya. Ia membelinya di sela lelah, di antara perjalanan yang terasa lebih panjang dari biasanya. Entah mengapa, membawa jeruk itu membuatnya merasa masih layak disebut ibu. Setidaknya, masih ada hal kecil yang bisa ia berikan.

Andin meletakkan kantong jeruk itu di meja dapur. Ia sempat menatapnya sejenak, membayangkan wajah kecil yang esok pagi akan berseri saat menemukannya. Bayangan itu cukup untuk membuat dadanya menghangat, meski hanya sebentar.

Setelah itu, tubuhnya menyerah.

Ia rebah di sofa ruang tengah tanpa sempat berganti baju, tas masih menggantung di bahu, sepatu bahkan belum dilepas. Punggungnya terasa remuk, kepalanya berat oleh pikiran-pikiran yang tak sempat dibereskan. Ia tak ingin tidur sebenarnya. Ia hanya ingin meletakkan semua beban. Sejenak saja.

Di antara sadar dan tidak, ingatannya berkelana. Tentang hari-hari yang dulu pernah hangat, tentang tawa yang kini jarang terdengar, tentang dirinya yang perlahan belajar kuat tanpa pernah benar-benar siap. Ia tak menangis. Air mata sudah terlalu sering jatuh hingga malam ini terasa kering.

“Sebentar saja,” bisiknya pada diri sendiri, seolah meminta izin untuk lelah.

Dalam sepi itu, terdengar langkah kecil mendekat. Andin membuka mata dan mendapati sosok mungil berdiri di ambang ruang tamu. Rambutnya berantakan, mata masih setengah terpejam.

“Bunda pulang?” suara itu lirih, namun cukup untuk menggetarkan sesuatu di dada Andin.

“Iya, Nak,” jawabnya cepat, bangkit meski tubuhnya memprotes. “Maaf, Bunda pulang malam.”

Anak itu mengangguk, lalu memeluknya erat tanpa bertanya apa pun. Pelukan sederhana, tapi cukup untuk menahan Andin agar tidak runtuh. Dalam pelukan itu, ia tahu satu hal: meski rumah ini bukan lagi tempat pulang baginya, selama pelukan itu ada, ia akan selalu menemukan alasan untuk kembali.

Jeruk sunkist di dapur menunggu pagi. Dan Andin, dengan segala luka yang tak terlihat, kembali menutup mata, bukan untuk lari, melainkan untuk bertahan satu hari lagi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post