Saat Aku Salah, Apa Kamu Benar?
Oleh: Hermin Agustini
SMPN 4 Tanggul
Malam itu, gerimis tipis membungkus kota, namun badai yang sesungguhnya sedang mengamuk di dada Dije. Tanpa mengetuk, ia menghambur masuk ke rumah Mbak Ely. Ata, balitanya yang tertidur lelap, langsung diletakkan di ranjang tanpa permisi. Safa, putri sulungnya, mengekor di belakang dengan tatapan kosong yang menyiratkan ia sudah terlalu sering melihat drama seperti ini.
Mbak Ely, sang pemilik rumah, hanya tertegun. Sebagai perempuan yang sudah kenyang asam garam kehidupan—termasuk pahitnya perceraian—ia paham betul bahwa diam adalah jawaban terbaik saat seseorang sedang meledak. Ia menyodorkan segelas air putih, membiarkan Dije sesenggukan hingga dadanya berhenti naik-turun dengan liar.
"Tumben tumbang?" tanya Mbak Ely pelan setelah suasana mencair.
"Mas Anang menuduh aku selingkuh, Mbak!" tangis Dije pecah lagi.
Alih-alih ikut prihatin, Mbak Ely justru tertawa renyah. Tawa yang membuat Dije tersentak dan merasa tersinggung. "Kok ketawa? Aku lagi hancur, Mbak!"
"Lah, kan sudah tak bilangin berkali-kali," ucap Mbak Ely sembari memperbaiki posisi duduknya. "Berhenti main api dengan Bram. Mau chat-mu isinya cuma nanya kabar atau bahas cuaca, di mata suami, itu tetap saja celah."
Dije menyeka air matanya dengan kasar. "Aku kan hanya chatingan biasa, Mbak. Tidak ada yang istimewa! Sementara Mas Anang? Tiap hari dia chat dengan mahasiswi-mahasiswi cantiknya. Alasannya bimbingan, alasannya tugas. Kenapa dia boleh, aku tidak?"
"Lantas?" Mbak Ely menatap tajam.
"Aku nggak rela dianggap selingkuh! Kalau tindakanku dianggap salah, ya sudah, nasehati saja. Beritahu baik-baik. Tapi Mas Anang langsung mengancam cerai. Aku sakit hati, Mbak. Kalau memang itu maunya, ya sudah! Aku bisa hidup sendiri!"
"Hush!" Mbak Ely memotong cepat. "Meskipun emosi, mulutmu dijaga. Liat Ata dan Safa. Jangan seperti anak kecil, Dije. Pernikahan bukan kompetisi siapa yang paling suci atau siapa yang paling banyak salahnya."
Dije berdiri, berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang sempit itu. "Mbak, aku sudah capek. Kenapa kalau aku melakukan hal yang sama dengannya, sedikit saja langsung jadi masalah besar? Sedangkan dia? Dia merasa aman di balik tameng 'pekerjaan' dan 'karisma dosennya'. Saat aku salah, apa otomatis dia jadi benar?"
Mbak Ely menghela napas panjang. Ia menghampiri Dije dan memegang kedua pundaknya. "Dije, dengar. Dalam pernikahan, dua kesalahan tidak akan pernah menghasilkan satu kebenaran. Kamu membalas kelakuannya dengan melakukan hal yang sama hanya untuk membuktikan ketidakadilan, tapi akhirnya? Kamu sendiri yang hancur, kan?"
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara napas Dije yang mulai teratur dan detak jam dinding yang seolah menghitung sisa kesabaran.
"Pulanglah besok," sambung Mbak Ely lembut. "Bukan untuk menyerah, tapi untuk duduk bersama. Katakan padanya: 'Mas, kalau aku salah karena Bram, aku minta maaf. Tapi mari kita bahas soal mahasiswi-mahasiswamu juga.' Bicara sebagai dua orang dewasa yang ingin menyelamatkan rumah, bukan sebagai dua pengacara yang saling menjatuhkan di pengadilan."
Dije tertunduk. Ia menoleh ke arah kamar, melihat Safa yang sedang mengusap rambut adiknya yang terlelap. Ada rasa perih yang lebih tajam dari sekadar ego yang terluka.
"Apa dia mau mendengarku, Mbak?"
"Dia akan mendengar jika kamu bicara dari luka, bukan dari amarah," jawab Mbak Ely bijak. "Kadang, kita perlu mengaku kalah dalam sebuah argumen untuk memenangkan kembali sebuah kebersamaan."
Malam itu, di bawah atap rumah sahabatnya, Dije belajar satu hal: bahwa benar dan salah seringkali hanya soal perspektif, tapi luka yang digoreskan kepada anak-anak adalah nyata yang tak terbantahkan. NdaeCha,8 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
