Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Buliran Asa yang Tersisa
gurusiana/herminagustini

Buliran Asa yang Tersisa

oleh: Hermin Agustini

SMPN 4 Tanggul

Malam masih enggan benar-benar pergi ketika Nora terjaga. Langit di luar jendela kamarnya berwarna kelabu, seolah ragu memilih fajar atau kembali ke gelap. Jam dinding berdetak pelan, mengiringi matanya yang tak juga mau terpejam. Ada lelah yang bersarang di kelopak mata, tapi pikirannya terlalu riuh untuk sekadar rebah.

Dalam sunyi itu, Nora duduk di tepi ranjang, melipat tangan, membait doa yang ia hafal di luar kepala. Doa yang sama setiap hari. Doa agar ia tetap kuat. Doa agar asa tak benar-benar mati. Doa agar apa pun yang sedang ia rajut, entah itu mimpi, harapan, atau sekadar alasan untuk bertahan. Tidak runtuh sebelum selesai.

Hari-harinya adalah medan tanpa penonton. Ia bekerja, berjuang, menahan perih, sering kali tanpa tahu untuk siapa. Pertanyaan-pertanyaan pernah datang, tapi lama-lama Nora berhenti bertanya. Ia berjibaku dengan hidup seperti orang berenang di laut lepas: jika berhenti, ia tenggelam. Kadang ia menatap bayangannya sendiri di cermin dan bertan yalirih, “Aku ini siapa sekarang?”

Bukan karena ia lupa namanya, tapi karena terlalu sering menanggalkan dirinya demi peran-peran yang dituntut keadaan. Ia menjadi kuat saat ingin rapuh, tersenyum saat hatinya retak, dan diam saat kata-kata justru menyesakkan dada.

Namun di antara semua itu, Nora masih menyimpan dambaan sederhana: sebuah senyum yang tulus. sebuah sapa hangat di pagi hari. sebuah kalimat, “Selamat pagi, cinta,” yang tidak diucapkan karena kewajiban, melainkan karena rasa. Ia tahu, hidup tak selalu jujur padanya. Ada dusta yang pernah mengerat lukanya tanpa ampun. Kata-kata yang terdengar manis, tapi meninggalkan jejak perih yang lama sembuh.

Meski begitu, Nora memilih tetap ada. Tetap memberi makna, walau sering kali hanya untuk orang lain. Irama hidupnya kini tak lagi sama. Ada nada yang sumbang, ada senyap yang memanjang. Tapi ia belajar bersenandung sendiri, pelan-pelan menghalau nestapa. Bukan untuk mengusirnya pergi, melainkan agar ia tak sepenuhnya kalah.

Pagi akhirnya datang. Cahaya tipis menyusup melalui celah gorden. Nora berdiri, menarik napas panjang, lalu tersenyum, senyum yang mungkin tampak kerontang bagi dunia, tapi bagi dirinya sendiri, itu adalah tanda bahwa ia masih bertahan. Di dadanya, buliran asa masih ada. Kecil, rapuh, namun cukup untuk membuatnya melangkah satu hari lagi. Dan bagi Nora, itu sudah lebih dari cukup. Ndaecha, Februari 2, 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post