Cinta Sederhana
Oleh: Hermin Agustini
SMPN 4 Tanggul
Senja turun perlahan di padang savana kecil di pinggir desa. Rumput liar bergoyang ditiup angin, memantulkan cahaya jingga yang hangat. Di atas batu datar, Dewi duduk menunggu, menggambar garis-garis tak beraturan di tanah dengan ujung sandal. Ia tahu seseorang akan datang terlambat seperti biasa, namun tak pernah gagal membuat hatinya merasa pulang. Tak lama, langkah tergesa terdengar di belakangnya.
“Maaf menunggu lama,” ucap Bayu, sedikit terengah, lalu duduk di sampingnya.
Dewi tersenyum tipis. “Aku sudah terbiasa.” Jawab Dewi tenang. Mereka sama-sama memandang hamparan rumput yang berkilau disapu cahaya senja. Keheningan di antara mereka bukanlah jarak, melainkan ruang tenang yang menyimpan banyak rasa.
“Aku tidak pandai mencintai dengan cara yang besar,” kata Dewi akhirnya.
Bayu menoleh.
“Memangnya cinta harus selalu besar?” Tanya Bayu. Dewi hanya menggeleng pelan.
“Jika cintamu setinggi gunung, aku tak ingin kau lelah mendakinya. Biarkan aku menjadi savana tempatmu berpijak, tempat kau beristirahat saat dunia terasa terlalu tinggi.” Bayu menatap jauh ke horizon, seolah mencari makna dalam kata-kata sederhana itu.
“Dan jika kasihmu seluas lautan,” lanjut Dewi, suaranya lembut tertiup angin,
“Aku tak ingin kau takut menyeberanginya. Aku rela menjadi jembatan sunyi agar langkahmu sampai ke tepi yang kau tuju.” Suara Dewi meluncur lembut mengiringi
senja yang mulai meredup. Langit berubah menjadi ungu kebiruan. Bayu menarik napas dalam.
“Apa yang kau inginkan dariku, Dewi?” tanyanya pelan. Dewi menatap tangannya sendiri sebelum akhirnya menjawab, “Tidak banyak. Cintaku sederhana. Aku hanya ingin kau mengerti bahwa aku pun punya hati, hati yang ingin dijaga, bukan dilukai.” Bayu menunduk, jemarinya memainkan rumput kering.
“Aku sering takut,” katanya lirih. “Takut tidak mampu mkembalas perasaanmu sebesar yang kau berikan.” Kata-kata Bayu dalam tatapannya yang tetap teduh yang dibalas oleh senyum Dewi yang hangat.
“Aku tidak meminta yang besar. Aku hanya meminta yang tulus.” Keheningan kembali hadir, tetapi kali ini terasa lebih dekat. Saat cahaya senja hampir menghilang, Bayu menggenggam tangan Dewi. Hangat. Tenang. Tanpa janji muluk, tanpa kata berlebihan. Dalam genggaman sederhana itu, Dewi menemukan jawaban yang selama ini ia tunggu. Cinta tidak selalu harus megah untuk menjadi abadi. Kadang, cinta hanya perlu dipahami, dijaga dengan hati.
NdaeCha, 16 Februari 2026.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
