Senja Menjelang Ramadhan
Oleh: Hermin Agustini
SMPN 4 Tanggul
Langit sore tampak redup ketika Andin duduk di sofa ruang tamu sembari memandangi secarik kertas yang telah berkali-kali ia lipat dan buka kembali. Dari ruang tengah terdengar suara Tito tertawa kecil menonton acara kesukaannya. Tawa itu hangat, namun sekaligus mengiris hatinya.
Ramadan tinggal menghitung hari. Andinmenarik napas panjang. Dalam hening, ia memanggil, “Yah…”
Tak lama, Bram keluar dari kamar tidurnya, wajahnya datar tanpa beban. Ekspersi yang tak pernah bisa Andin baca meski telah duapuluh lima tahun mereka bersama. Bram kemudian duduk santai dihadapan Andin, menjaga jarak yang tak lagi kasatmata, namun terasa.
Bram hanya duduk, diam menunggu. Seperti biasa setiap masalah bukan bagiannya. Hanya milik Andin. Hanya Andin yang baper dan membesarkan masalah. Biasanya di situasi seperti ini Bram hanya akan mendengarkan dalam diam lalu selesai dan semua tetap berjalan normal dengan drama ceria Andin agar tetap tampak untuh.
Sesaat kemudian Andin menunduk, menata kata yang telah lama menunggu keberanian setelah lama komunikasi diantara keduanya hampir tidak pernah terjadi kecuali bila sedang membersamai Tito, buah hati mereka.
“Menjelang Ramadan ini, Bunda mohon maaf lahir batin kalau selama ini ada kata atau sikap yang melukai.” Suara Andin parau menahan agar airmatanya tak jatuh.
Bram masih tetap diam.
“Yah… pernikahan kita tidak baik-baik saja. Kita sama-sama tidak mampu menjalankan kewajiban kita. Sudah setahun Bunda menunggu.” Hening kembali jatuh.
Jam dinding berdetak pelan, seolah menghitung detik keputusan yang tak bisa lagi ditunda.
“Padahal menikah itu ibadah,” lanjut Andin.
“Bunda tidak ingin kita terus berjalan dalam keadaan yang justru menjauhkan kita dari ridha Allah.”
Airmata Andin jatuh tanpa isak tangis, buliran hangat itu meluncur begitu saja ke sudut bibirnya yang bergetar. Sementara Bram tetap datar.
“Apa pun yang terjadi dengan Ayah,” Ucap Andin lirih, “Bunda ikhlas, tidak akan dendam maupun kecewa.” Ia mengangkat wajahnya, menatap Bram dengan ketulusan yang sunyi.
“Ayah tetap ayah bagi anak kita. Itu tidak akan berubah.”
“Ayah,” katanya lagi, “Bunda hanya ingin kita lepas dari dosa dalam pernikahan ini. Kalau memang ini jalan terbaik, sebaiknya Ayah menjatuhkan talak.” Kata itu menggantung di udara. Bukan sebagai akhir,melainkan sebagai pintu kejujuran.
“Kita tetap seperti ini,” lanjut Andin. “Kita temani Tito sampai sukses, kita tetap orang tuanya.”
Ayah menatap lantai. Hatinya bergetar antara kehilangan dan kelegaan yang pahit.
“Bunda tidak ingin kita berlarut-larut dalam dosa,” ujarnya. “Bunda ikhlas… jika Ayah menyelesaikan ikatan ini secara agama.”
“Mumpung ada Mas Galih dan Umik yang bisa menjadi saksi,” tambahnya pelan. Bram tetap tenang menyimak. Sementara senja merambat masuk melalui jendela, memandikan ruangan dengan cahaya keemasan yang sendu. Di luar, adzan maghrib mulai berkumandang. Suara itu menggetarkan ruang hati yang lama sunyi
“InsyaAllah,” Andin berbisik, “Rrezeki kita masing-masing akan semakin barokah.” Ia menghapus air mata yang akhirnya jatuh.
“Bunda akan tetap seperti ini. Fokus bekerja untuk masa depan anak kita, dan kita tidak perlu lagi berdebat mencari siapa paling benar atau sebaliknya. Bunda sudah terbiasa, Yah,”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tito Memandang Andin, hanya dengan satu kata ia berucap, “ iya,” kemudian mereka saling melihat tanpa amarah, tanpa tuntutan, tanpa luka yang disembunyikan. Hanya dua manusia yang pernah saling mencintai yang kini memilih berpisah demi kebaikan. Dari ruang tengah, Tito berlari menghampiri.
“Ayah… Bunda… lihat gambar Tito!” Seru Tito berlari kecil membawa gambar karyanya. Mereka tersenyum bersamaan. Senja itu menjadi saksi, bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki, kadang ia berarti melepaskan dengan ikhlas agar semua kembali suci menyambut Ramadan yang sebentar lagi datang.
NdaeCha, 19 Februari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
