Kenangan di Suwarnadwipa Part 1 (Tantangan hari ke-2) TantanganGuruSiana
Liburan adalah momen yang sangat ditunggu oleh siapa saja. Karena dengan liburan seluruh rutinitas dan kejenuhan selama bekerja untuk sementara bisa ditinggalkan. Liburan merupakan salah satu cara untuk mencharge energi dalam tubuh supaya menjadi lebih semangat untuk menghadapi rutinitas yang akan datang. Liburan tidak harus pergi berekreasi atau mengunjungi tempat-tempat wisata, di rumahpun kita bisa menikmati liburan. Pada tulisan ini saya akan menceritakan pengalaman liburan saya dengan guru dan staf tata usaha SMPN 2 Dumai ke Pantai Swarnadwipa di Sumatera Barat.
Agenda liburan untuk guru dan staf tata Usaha adalah agenda rutin yang selalu diadakan sekolah setiap akhir tahun ajaran. Sebelum melakukan kegiatan ini, jauh hari sebelumnya kami sudah melakukan persiapan termasuk dalam pendanaan. Teman-teman guru dan staf tata usaha biasanya sudah menyisihkan sedikit penghasilan untuk acara jalan-jalan dengan menabung. Banyak tempat yang sudah kami kunjungi dan setiap tahun destinasinya selalu berganti-ganti. Pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah sewaktu liburan ke pantai Swarnadwipa di Sumatera Barat. Destinasy yang kami tuju kali ini sebagai salah satu agenda sekolah juga untuk menimbulkan rasa cinta terhadap bahari buat seluruh guru dan staf tata usaha, karena SMPN 2 Dumai termasuk salah satu sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah bermuatan Kemaritiman
Kami berangkat dari sekolah menuju Sumatera Barat hari Jumat sore, tanggal 21 Juni 2019 menggunakan bus pariwisata. Ada sekitar 40 orang guru dan staf tata usaha yang ikut dalam perjalanan kali ini, dan beberapa orang rekan guru membawa putra-putri mereka, termasuk saya juga membawa putri saya yang masih berumur 5 tahun. Kami pergi ke Swarnadwipa lewat salah satu biro perjalanan. semua keperluan kami dan akomodasi kami selama liburan ini diurus oleh biro perjalanan tersebut. Kami sampai di pantai Bungus pada hari Sabtu paginya, jam 09.00 WIB. Kedatangan kami di Pantai Bungus disambut oleh cuaca yang kurang bersahabat, menurut pengelola pantai swarnadwipa cuaca seperti ini sudah dari hari sebelumnya.
Cuaca yang tidak bersahabat, hujan disertai angin membuat jadwal kami yang seharusnya berangkat ke pantai pukul 10.00 WIB ditunda menjadi pukul 14.00 WIB. Kami istirahat di kantor agen perjalanan tersebut menunggu hujan reda. Sekitar pukul 14.00 WIB langit sudah mulai cerah, pengelola pantai Swarnadwipa mempersilahkan kami menaiki perahu mesin yang akan mengantarkan kami ke pantai. Ada tiga perahu mesin yang disediakn untuk rombongan kami, untuk satu perahu bisa ditumpangi sekitar 15 orang berikut barang bawaan.
Saya dan putri saya beserta beberapa rekan-rekan guru menaiki perahu kedua, entah kenapa waktu menaiki perahu ini saya merasa takut dan cemas. Padahal ini bukan pengalaman pertama saya naik perahu, mengunjungi pulau biasa saya lakukan, karena memeng dari kecil saya tinggal di tepi pantai. Rumah keluarga alm ayah saya berada dipinggir pantai Gandoriah, Pariaman. Pantai adalah tempat main-main saya waktu kecil, dan kadang-kadang saya diajak oleh keponakan ayah ke Pulau Angso Duo menggunakan perahu. Tapi menaiki perahu ke Swarnadwipa kali ini membuat hati saya berdebar-debar, mungkin perasaan ini karena saya mebawa putri saya yang masih berumur 5 tahun, saya mencemaskan kalau terjadi hal yang tidak diingikan, sementara putri saya belum bisa berenang. Tapi semua itu saya tepiskan, karena saya yakin Allah pasti akan melindungi kami semua.
Dengan membaca Bismillah kami menaiki perahu kedua. saya duduk dibangku bagian tengah. Diawal perjalanan semua lancar, ombak tenang kami menikmati perjalanan yang mengasyikan. Kami melihat beberapa kapal besar di tengah laut, pemandangan yang indah dan mengasyikan. Ketenangnan itu hanya berlagsung selama 20 menit, menit berikutnya terjadilah hal yang tidak kami inginkan. Angin yang semula sepoi-sepoi berhembus dengan kuatnya, ombak yang semula pelan menjadi kuat dan tinggi. Perahu mesin yang kami naiki menari-nari diatas air laut. Perahu kami jadi terombang ambing. Ombak lebih tinggi dari perahu kami, sebagian airnya memasuki perahu dan membasahi penumpang dan barang-barang yang ada di perahu.
Saya luar biasa cemasnya, putri saya yang tadi bernyayi-nyayi kecil karena menikmati perjalanan yang indah tak terdengar lagi suara nyanyiannya, berganti dengan suara tangisan. Saya tak putus-putusnya mengucapkan doa memohon pertolongan Allah, suasana jadi mencekam, beberapa kawan guru saya lihat ada yang menangis, kami tak ada yang bersuara, hanya doa dan takbir yang kami lafazkan dengan suara pelan. Saya melihat ketengah laut tidak nampak ada kapal atau perahu nelayan yang ada, hanya perahu yang kami tumpangi yang ada ditengah laut ini. Saya jadi cemas dan jadi berpikr yang tidak-tidak, siapa yang akan menolong kami kalau perahu kami terbalik. Saya mengusir pikiran jelek dalam hati saya dengan kalimat iistighfar, saya yakin Allah akan melindungi kami, apalgi dalam kapal kami ada anak kecil.
Tiba-tiba angin kencang behenti, diganti dengan hujan yang turun, kami sedikit tenang setidaknya perahu tidak terguncang-guncang seperti tadi. Alhamdulillah angin kencangnya sudah berhenti, berganti dengan hujan. Tapi kami bersyukur biarlah hujan daripada angin kencang seperti tadi. Butuh waktu sekitar 45 menit sampai kami merapat didemaga Pantai Swardwipa.
Sesampai di dermaga perahu merapat. Saya masih terduduk sewaktu teman-teman saya sudah mulia menuruni perahu. Saya melirik putri saya yang berada dipelukan saya, putri saya nampak tertidur. Mungkin suasana yang mencekam di perahu tadi membuat dia takut dan lelah. Seluruh pakaian saya dan putri saya basah kuyup karena hempasan ombak.
Saya penumpang terakhir yang turun dari perahu. Sebelum turun saya bertanya kepada adik-adik anak buah perahu yang mendampingi kami. Apakah kejadian seperti tadi sering dialami mereka waktu mengantar para pengunjung pantai Swarnadwipa, mereka tersenyum dan salah seorang menjawab bahwa Allah telah melindungi kami semua, selama dia mengantarkan wisatawan ke pulau ini, kejadian tadi yang paling yang luar biasa mereka alami. Merekapun tadi sangat cemas dan gugup, merekapun mengatakan keajaiban sehingga kami selamat sampai ke dermaga. Saya kaget dan sempat shock mendengarnya. Mereka berpesan hati-hati selama liburan di pulau, takut angin kencang kayak tadi akan datang kembali. Saya menuruni kapal dengan membimbing putri saya, saya takut putri saya trauma akibat peristiwa tadi. Tapi alhamdulillah sewaktu sudah turun sampai di dermaga dia sudah nampak ceria, dan ingin segera bermain pasir di pantai, tak henti-hentinya bibir saya mengucapkan Alhamdulillah karena Allah telah melindungi kami semua. Saya membatin, pengalaman apa yang akan kami jumpai nanti setelah sampai di pulau yang indah ini?.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan