Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Bu Guru untuk Papa (part 2 end) (Tantangan Hari Ke-6)

#TantanganGuruSiana

Lanjutan dari cerpen kemarin ya pembaca yang budiman....., yuk ikutin.., mohon tinggalkan krisan ya di kolom komentar. Terima Kasih....

******************************

Bu Guru Untuk Papa (end)

Usulan Sindi tadi siang masing terngiang-ngiang di benak Dita. Menjelang tidur Dita masih memikirkannya. Kalau memang itu jalan yang terbaik Dita akan mencoba. Semua demi papa tersayang. Malam itu Dita tertidur dengan senyum diwajahnya.

“Dita Ayu Hardian, nanti jumpai ibu di ruangan ibu ya, jam istirahat,” suara ibu Gendis guru Bahasa Inggris mengagetkan Dita dan teman-teman yang sedang mengerjakan latihan.

Dita manatap bu Gendis yang sudah berdiri didepan mejanya. "Ya, Bu," Dita menjawab sambil menganggukan kepalanya.

“Kamu tahu kenapa saya panggil?’, suara lembut bu Gendis menyapa Dita setelah mempersilahkan Dita duduk.

Dita menggelengkan kepalanya. Diapun heran kenapa ibu Gendis memangilnya.

“Akhir-kahir ini kamu ibu lihat suka termenung, ada apa? kamu boleh cerita ke ibu,” suara ibu Gendis terdengar lembut.

Dita hanya diam. Dia tidak mau menceritakan kepada ibu Gendis masalahnya. Dita menatap ibu Gendis dengan mata tanpa dosanya. Suasana beberapa saat jadi hening.

“Ibu memangil kamu karena kemampuan bahasa Inggris kamu bagus, ibu rencana mau mengikutkan kamu lomba Story Telling yang diadakan oleh MGMP Bahasa Inggris, kamu mau ikut?” bu Gendis menatap Dita sambil tersenyum.

“Mau bu, Dita bersedia,” Dita menjawab dengan semangat. Karena Dita memang hobbi dan senang dengan pelajaran yang satu ini.

“Oke kalau begitu, kamu nanti harus siapkan diri kamu untuk latihan ya, nanti ibu infokan kapan jadwal kita latihan, latihannya bisa di sekolah atau bisa juga nanti di rumah ibu, “ Ibu Gendis menjelaskan ke Dita.

“Ya Bu, Dita siap bu,” Dita menjawab dengan perasaan bahagia.

“Oke, terima kasih Dita, kamu boleh kembali ke kelas,” Ibu Gendis mengakiri obrolan dengan Dita.

******

Persiapan untuk lomba story telling membuat intensitas Dita berjumpa dengan Ibu Gendis menjadi lebih banyak. Bahkan Dita pernah diajak bu Gendis ke rumahya untuk latihan. Dita kaget ternyata Bu Gendis belum menikah, Padahal umur bu Gendis tidak muda lagi, sudah sekitar 45 tahun. Ibu Gendis tinggal sendiri di rumahnya, karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Ibu Gendis anak tunggal. Dita senang di rumah ibu Gendis, karena ibu Gendis memperlakukan Dita seperti anaknya sendiri.

Kedekatan Dita dengan bu Gendis menimbulkan ide dalam diri Gita untuk menjodohkan ibu gurunya dengan papanya. Tapi Dita ragu, apakah ibu Gendis dan papanya setuju?. Semua harus dicoba, Dita mambatin.

Malam itu Dita dan papa makan malam bersama. Kegiatan yang jarang akhir-akhir ini mereka lakukan. Karena Papa selalu makan malam di toko dengan karyawannya. Dita merasa ini saat yang cocok untuk bicara dengan papa, apalagi malam ini kelihatan papa sangat fresh sekali.

“Papa, Dita lihat papa akhir-akhir ini pulangnya malam terus,” Dita membuka percakapan dengan papa.

“Kenapa sayang? Dita takut di rumah, ya?” Papa balik bertanya kepada Dita.

“Iya Pa, Dita maunya papa itu kalau Dita sudah pulang sekolah ada di rumah, jadi Dita ada teman, Dita kesepian, Pa,” Dita menatap papanya dengan wajah memelas.

“Bagaimana kalau papa carikan mama baru buat Dita,” sambung Dita lagi.

Pertanyaan Dita membuat papanya kaget. Dia tak menyangka anak kesayangannya ini punya ide seperti itu. Selama ini dia menolak semua perempuan yang dicalonkan kepadanya kaena dia tidak mau anak kesayangannya ini sedih. Karena selalu dilihatnya wajah tidak suka di mata putri kesayangannya apabila ada perempuan yang akan dikenalkan sebagai mama barunya. Tapi sekarang putri kesayangnnya sendiri yang menawarkan istri untuknya.

“Papa mau saja, tapi Dita yang carikan calon mama buat papa, ya. Tapi... apa masih ada yang mau sama Papa?” papa Dita menjawab sambil mencubit hidung putri kesayangannya.

“Yey.... pasti ada yang maulah Pa, Papa Dita kan ganteng, Papa janji ya, ntar kalau calonnya sudah jumpa, Papa mau ya dikenalin,” Dita menjawab dengan bersemangat sambil melompat kegirangan.

Dita terbayang lagi dengan bu Gendis, Dita merasa bu Gendis adalah calon yang tepat untuk papanya. Tapi gimana ya mengenalkan mereka?. Bermacam ide ada dalam benak Dita. Tapi Dita nggak tahu ide mana yang akan digunakan untuk mengenalkan bu gurunya dengan papa.

******

“Wah.. bagus itu Dita, aku setuju,” Sindi memberikan pendapat waktu Dita mengutarakan rencananya mau menjodohkan ibu Gendis dengan papanya.

“Ibu Gendis kan baik, cantik lagi, tapi aku ragu kalau beliau mau sama papamu,” Sindi menggoda Dita.

“Jangan gitu dong, Sin. Bantu aku bagaimana mengenalkan papa dengan ibu Sindi,” rajuk Dita.

Kedua sahabat itu terdiam. Masing-masing larut dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Sindi tersenyum.

"Yes... aku jumpa Dita caranya, yakin deh pasti berhasil," Sindi kegirangan.

Dita menatap sahabatnya dengan tanda tanya. Sindi memang anak yang pintar dan baik hati. selalu aja ada ide di kepalanya. Setiap masalah yang Dita hadapi selalu terselesaikan kalau ada Sindi. Dita senang berteman dengan Sindi, selalu bisa diandalkan untuk memecahkan masalah.

"Sini, aku bisikan," Sindi membisikan sesuatu kepada Dita. Dita menganggu-angguk tanda mengerti. Ntah apa yang akan direncanakan oleh dua orang sahabat baik tersebut

*******

“Assalamualaikum...” suara ketukan dipintu rumah bu Gendis menghentikan suara Dita yang lagi latihan story telling di rumah Ibu Gendis. Deadline jadwal lomba yang semakin dekat membuat waktu latihan di sekolah tidak mencukupi. Ibu Gendis mengajak Dita latihan di rumahnya.

“Itu mungkin papa Dita, Bu. Papa menjemput Dita, tadi Dita minta papa yang jemput” Dita menjelaskan ke bu Gendis

Bu Gendis membuka pintu dan mepersilahkan papa Dita masuk.

“Ibu Gendis ?” Papa Dita nampak kaget melihat bu Gendis.

“Lho papa kenal dengan ibu Gendis, guru Dita?” Dita menatap heran papanya.

Ibu Gendis dan papanya Dita saling tersenyum, papa Dita tak menyangka kalau berjumpa bu Gendis disini. Ibu Gendis adalah adik sepupu temannya papa Dita. Setahun setelah kematian mamanya Dita, sepupu Ibu Gendis pernah mengenalkan papa Dita dengan ibu Gendis. Tapi waktu itu Dita masih kecil. Ibu Gendis masih ingat Dita kecil tidak menyukai kehadirannya. Dita mungkin belum rela ada wanita lain pengganti mamanya, sehingga perkenalkan itu tidak berlanjut. Karena Ibu Gendis waktu itu juga tidak mau menerima papa Dita kalau putrinya tidak menyukainya.

“Dita, kan 4 tahun yang lalu Dita sudah pernah jumpa dengan ibu Gendis, waktu itu oom Yudi mengenalkan Ibu Gendis ke papa, Dita nggak ingat ya?” papa mejawab sambil menatap Dita.

“ Dita tidak ingat, papa, Kenapa papa menolak?” Dita menatap papanya heran. Dita tak ingat kalau dulu Ibu Gendis pernah dikenalkan papa ke dia. karena dulu Dita memang tak pernah tertarik untuk berkenalan dengan perempuan-perempuan yang dikenalkan sebagai pengganti mamanya. Bagi Dita tak boleh ada yang menggantikan mamanya. Dita tidak mau punya ibu tiri. Cerita ibu tiri yang jahat pada cerita Bawang Merah dan Bawang Putih yang pernah dibacanya membuat dia takut.

“Jadi bu Gendis sudah kenal Dita sebelumnya dong,” Dita bertanya sambil menatap ibu Gendis.

Ibu Gendis menganggukan kepala. Jujur dia menyanyangi Dita. Rasa sayang kepada Dita melebihi rasa sayang kepada anak didiknya yang lain. Dita anak yang pintar, sopan dan rajin. Dia menyadari bahwa Dita tidak menginginkan kehadiran ibu sambung dalam hidupnya. Bu Gendis masih ingat perkenalannya dengan papa dan Dita. Dia masih ingat ketika Dita kecil tidak menyukai dirinya sebagai ibu sambungnya, tetapi sikap penolakan gadis kecil itu terhadap dirinya tidak membuatnya marah. Tidak disangka gadis kecil yang menolak dirinya untuk menjadi ibu sambungnya empat tahun yang lalu ternyata menjadi siswanya.

“Kalau sekarang ibu Gendis jadi mamanya, Dita, Ibu bersedia?” pertanyaan Dita mengagetkan ibu Gendis dan papanya Dita. Pertanyaan yang tidak terduga bagi ibu Gendis.

Papanya Dita menatap ibu Gendis. Ada harapan dimatanya. Ibu Gendis terdiam dan menundukakan kepala. Papa Dita tersenyum. Sikap ibu Gendis sudah jelas baginya. Ada yang indah bersemi di dadanya. Perasaan yang selama ini kering jadi basah seperti bunga yang disiram air. Dia manatap Dita, putri nya nampak sangat bahagia sekali. Air mukanya nampak kegirangan karena sudah berhasil mendapatkan ibu guru buat papanya. Semoga Ibu Gendis bisa jadi mama sambung yang baik buatku dan papa, batin Dita. Senyum manis terukir di wajahnya.

Dumai, **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post