Cinta dalam Sepotong Rendang (Tagur hari ke-26)
#TantanganGuruSiana
.
Suasana makan malam berlangsung dengan tenang. Tidak ada suara yang terdengar. Keempat anak-anakku makan dengan lahapnya. Sambal tempe campur teri dan sayur bening bayam yang aku sajikan mereka nikmati dengan sangat lahap.
Bang Hafis suamiku yang masih sakit tampak sudah mulai berselera makan. Kecelakaan di tempat kerja yang dialaminya menyebabkan dia tidak bisa bekerja. Bang Hafis dan beberapa orang temannya tertimpa plafon sebuah bangunan yang lagi mereka kerjakan. Memang tidak begitu membahayakan, tetapi tetap mengharuskan dia istirahat untuk beberapa hari.
“Ibu, besok kita puasa ya,” Rizky putra bungsuku membuka suasana yang hening.
“Iya Nak,”jawabku singkat.
“Kok ibu tidak masak rendang seperti puasa tahun kemarin?” dia menatapku heran.
Aku menghentikan suapanku. Aku menatap wajah lugunya. Rizky adalah anak bungsuku dan baru duduk kelas 1 SD. Ya Tuhan... bantu aku untuk menjawab pertanyaanya. Bagaimana cara aku memberi jawaban agar dapat dimengertinya.
“Rizky, puasa itu tidak harus makan rendang, Dek. Kita harus bersyukur masih bisa makan seperti ini, ada orang yang nggak bisa makan.” Alya putri sulungku menjawab pertanyaan adiknya. Alya sudah duduk di kelas 6 SD. Usianya yang sudah hampir 13 tahun membuat dia lebih bisa memahami kondisi kami di bandingkan adik-adiknya.
“Mbak Alya benar, Nak. Kita harus bersyukur. Nanti kalau ibu ada uang, Ibu akan masakan kamu rendang ya, " jawabku sambil tersenyum.
“Iya, Bu. Semoga sahur nanti kita dapat makan rendang ya, Bu.” Rizky kembali mengatakan keinginannya ingin makan rendang. Kami semua diam tak menanggapi perkataan Rizky. Usianya yang masih anak-anak belum memahami keadaan keluarga membuat dia tidak menyadari ucapannya.
Tahun ini adalah Ramadhan yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Wabah virus corana yang melanda berimbas ke kehidupanku. Aku seorang ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Penghasilan suamiku sebagai kuli bangunan cukup untuk membiayai keluarga kecilku. Untuk mendapatkan uang tambahan aku membantu dengan membuat kue-kue basah yang aku titipkan di warung-warung.
Anjuran stay at home membuat orang lebih betah di rumah, sehingga kue-kue yang aku titipkan di warung tidak terjual. Karena selalu bersisa aku menyetop meletakkan kue ke warung-warung. Berusaha menjual kue dengan online sudah aku upayakan melalui media sosial tetapi belum ada yang tertarik untuk memesanya. Jadi aku tidak mendapat pemasukan dari usaha sampinganku.
Harga daging yang sangat mahal membuat aku tadi sewaktu ke pasar tidak jadi membelinya. Alhasil untuk persiapan ramadhan aku tidak masak rendang. Terlahir dari keluarga yang tidak pernah susah dari segi ekonomi keadaan ini membuatku sedih. Baru ini Ramadhan pertamaku tanpa memasak rendang. Air mataku sempat menetes tanpa kusadari.
Tradisi memasak rendang dan mandi balimau adalah tradisi yang sudah turun temurun di kampung halamanku, sebuah kota di Sumatera Barat. Nasib membawaku keperantauan dan menemukanku dengan jodoh diperantauan ini.
Bang Hafis seorang pemuda sholeh dari tanah Jawa. Bang Hafis dulunya bekerja di sebuah perusahaan swasta, PHK dan susahnya mendapatkan pekejaan membuat suamiku sekarang menjadi kuli bangunan. Bagiku tidak masalah yang penting didapatkan dengan cara yang halal.
Kecelakaan yang dialami Bang Hafis menyebabkan dia belum bisa bekerja sehingga tidak menerima upah. Uang yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari selama Bang Hafis sakit adalah uang tabungan yang aku simpan sedikit demi sedikit. Kalau tadi dibelikan ke daging, aku khawatir uangnya cepat habis. Sementara Bang Hafis belum tahu lagi kapan akan bisa bekerja. Jadi aku harus ekstra hemat membeli sesuatu.
*****
Jam di dinding sudah menunjukan pukul 21.30 WIB. Suasana rumah hening, hanya jam dinding yang terdengar suara detaknya dari ruang tamu. Tidak terdengar lagi suara anak-anakku dari kamar mereka. Mungkin mereka sudah tidur semua. Selesai tarawih aku terduduk lama di sajadah, keinginan Rizky putraku makan rendang di sahur besok membuatku jadi kepikiran. Suara ketukan di pintu mengagetkanku, siapa yang malam-malam ini bertamu, batinku.
Aku beranjak ke ruang depan dan mengintip dari balik gorden jendela. Mbak Annah tetanggaku nampak di depan pintu dengan putri bungsunya yang sebaya dengan anak sulungku, Alya
“Assalamulaikum, Ibu Alya,” terdengar suara Mbak Annah.
“Waalaikumsalam, Mbak Annah. Silahkan masuk,” aku membukakan pintu buat Mbak Annah.
“Nggak usah Ibu Alya kami di sini aja, kami mau ngantar ini. Ada sedikit rendang buat Alya dan adik-adiknya. Maaf terlambat ngantarnya, soalnya baru masak. Seharian tadi kami di rumah orang tua saya.” Mbak Annah menyerahkan mangkok yang terasa masih panas ke tanganku.
“Syukron, Mbak Annah, Jazakallah Khairan,” aku menerima pemberian tetanggaku dengan terharu.
Sepeninggal Mbak Annah aku menangis. Seumur hidupku baru kali ini aku merasa sangat terharu menerima pemberian seseorang. Karena pemberiannya datang di saat aku membutuhkannya. Keinginan putra bungsuku yang ingin makan rendang di sahur hari pertama membuat aku kepikiran dimana mendapatnya. Alhamdulillah, Allah mengirim Mbak Annah tetanggaku mengantarnya. Tak henti-hentinya mulutku melafazkan syukur kepadaNya.
*****
Berdua dengan Alya aku menyiapkan makan sahur untuk keluargaku. Rendang pemberian Mbak Annah, sambal tempe dan teri semalam dengan rebus sayur singkong yang aku petik sore kemarin dari kebun belakang terhidang di meja makan. Aku tersenyum menatap rendang di piring. Mataku kembali berkaca-kaca. Aku bersyukur di sahur pertama ada yang berbaik hati memberi kami rendang.
Suami dan anak-anaku sudah bangun. Setelah selesai melaksanakan sholat malam mereka semua duduk di meja makan. Rizky putraku sangat gembira melihat rendang ada di meja makan. Bang Hafis menatapku heran. Wajahnya penuh tanda tanya kenapa bisa ada rendang di meja makan.
“Ibu ini kok ada rendangnya. Ibu masak rendang ya,” Rizky gembira sekali. Matanya berbinar-binar penuh kebahagian. Refleks dia tegak dari tempat duduknya menghampiriku dan memelukku. "Rizky sayang sama Ibu," katanya bahagia.
“Allah mendengar doa Rizky supaya bisa makan dengan rendang waktu sahur, jadi Allah mengirim seseorang untuk mengantarkan rendang ke rumah kita,” Aku mengusap kepalanya lembut.
“Baik sekali orangnya ya Bu, semoga Allah membalas kebaikannya,” Rizky menengadahkan tangannya dan mengusapkannya ke mukanya. Kami semua meng”Aamiin”kan doa Rizky.
Aku tersenyum menatapnya. Bahagia melihat kegembiraan keluarga kecilku. Bang Hafis memimpin doa makan sahur. Kami makan dengan sangat nikmat. Rendang pemberian Mbak Annah menambah nikmat makan sahur kami. Makasi Mbak Annah sudah berbagi buat kami. Semoga Allah selalu memudahkan rejeki mbak sekeluarga, batinku.
" the end"
Dumai. 24-04-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan